
Tempat pemungutan suara di Budapest saat pemilu Hungaria pada April 2026 (The Guardian)
JawaPos.com — Kemajuan kecerdasan buatan (AI) generatif mulai memasuki ruang politik, termasuk ketika pemilih menggunakan chatbot untuk mencari informasi sebelum menentukan pilihan.
Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan serius dalam memberikan panduan politik karena kerap menghasilkan jawaban yang tidak akurat, tidak konsisten, bahkan merekomendasikan partai yang tidak ikut dalam pemilu.
Penelitian yang dilakukan kelompok hak sipil Liberties selama pemilihan parlemen Hungaria menemukan bahwa chatbot AI populer seperti ChatGPT dan Gemini sering gagal mengidentifikasi preferensi politik pengguna secara tepat. Studi tersebut menyimpulkan bahwa sistem AI umum atau general-purpose AI (GPAI) “menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keandalan sistem AI dalam konteks pemilu”.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (22/7/2026), penelitian itu menguji kemampuan ChatGPT dan Gemini dalam memberikan rekomendasi kepada pemilih selama pemilu parlemen Hungaria tahun ini. Hasilnya menunjukkan bahwa kedua chatbot sering salah mengklasifikasikan profil pemilih, tidak menyebut partai yang sesuai, serta memasukkan nama partai yang bahkan tidak terdaftar dalam pemilu.
Dalam penelitian tersebut, Liberties membuat lima profil pemilih berdasarkan posisi politik masing-masing partai yang tercatat dalam daftar nasional Hungaria. Profil itu kemudian diuji sebanyak 10 kali di ChatGPT dan 10 kali di Gemini dengan dua jenis pertanyaan, yakni meminta rekomendasi langsung mengenai partai yang harus dipilih serta meminta persentase kecocokan antara pemilih dan lima partai peserta pemilu.
Salah satu temuan paling mencolok berkaitan dengan partai oposisi Tisza yang dipimpin Péter Magyar, yang secara meyakinkan memenangkan pemilu dan mengakhiri dominasi 16 tahun Viktor Orbán bersama Partai Fidesz. Dalam 90 persen pengujian menggunakan profil pemilih yang memiliki pandangan sejalan dengan Tisza, ChatGPT gagal merekomendasikan partai tersebut.
Bahkan, dalam pengujian kecocokan berbasis persentase, ChatGPT hanya memberikan skor kepada Tisza dalam 2 persen kasus. Sebaliknya, pemilih dengan profil yang mendukung Fidesz lebih sering dikenali secara konsisten. Dalam pertanyaan rekomendasi langsung, ChatGPT menyebut Fidesz sebagai pilihan utama dan tetap memasukkannya sebagai opsi utama dalam pengujian lainnya.
Selain persoalan bias visibilitas partai, penelitian itu juga menemukan tingkat ketidakkonsistenan yang tinggi. Profil pemilih yang sama dapat menerima rekomendasi partai yang berbeda secara drastis dalam pengujian berulang. Sebanyak 96 persen respons dari ChatGPT dan Gemini juga mencantumkan partai yang tidak masuk dalam daftar surat suara pemilu Hungaria 2026.
Para peneliti menilai masalah tersebut kemungkinan berkaitan dengan keterbatasan data pelatihan, sistem penyaringan, serta kemampuan pemrosesan bahasa AI. Tisza sendiri baru berkembang menjadi kekuatan politik utama setelah 2024 sehingga model AI dengan data pelatihan statis dinilai kesulitan memahami perubahan politik terbaru.
Meski demikian, penelitian tersebut tidak menyatakan bahwa kesalahan chatbot memengaruhi hasil pemilu Hungaria. Namun, Liberties memperingatkan bahwa dalam pemilu yang lebih ketat atau ketika pemilih masih ragu menentukan pilihan, rekomendasi AI yang keliru berpotensi memengaruhi keputusan politik masyarakat.

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Atlet Golf Putri Indonesia Diduga Diculik, Sedang Rayakan Ultah Nenek di Restoran Tiba-tiba Disergap 5 Pria
Menlu Iran Ungkap Dugaan Kebocoran Intelijen di Jantung Kekuasaan, Serangan yang Tewaskan Khamenei Dinilai Sudah Diketahui Musuh
Hotman Paris Sampaikan Permintaan Maaf usai Diduga Hina Wartawan "Lu punya otak enggak sih?"
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Polisi Periksa Saksi dan CCTV, Ungkap Dugaan Penculikan Atlet Golf Putri Indonesia Jesslyn Wijaya
