
Personel Angkatan Laut Kerajaan Belanda mengoperasikan drone dalam uji coba sistem nirawak di pesisir utara Belanda (The Guardian)
JawaPos.com - Perlombaan teknologi kini tidak lagi hanya berlangsung di pusat pengembangan kecerdasan buatan (AI) atau industri antariksa. Di sektor pertahanan, Belanda tengah mempercepat transformasi angkatan lautnya dengan memadukan kapal nirawak, drone, robot bawah laut, dan AI dalam satu sistem operasi terpadu. Transformasi tersebut dipimpin Angkatan Laut Kerajaan Belanda melalui serangkaian uji coba selama lima pekan di perairan Den Helder.
Dalam simulasi itu, kapal nirawak Defender 1 dan Defender 2, drone udara Noa, serta robot pemetaan ranjau bawah laut beroperasi secara bersamaan mengawasi sasaran tanpa membawa awak manusia. Seluruh sistem dikendalikan melalui jaringan komando terintegrasi sehingga berbagai platform baru dapat ditambahkan seiring perkembangan teknologi.
Dilansir dari The Guardian, Sabtu (18/7/2026), Kepala Pusat Keahlian Sistem Nirawak Angkatan Laut Belanda, Kapten Sjoerd Feenstra, mengatakan organisasinya tengah melakukan perubahan mendasar. "Selama satu setengah tahun terakhir kami bekerja mengubah organisasi. Sekitar 10 tahun lagi, platform berawak akan dikelilingi oleh sistem-sistem nirawak yang dapat beroperasi secara mandiri dengan tingkat otonomi setinggi mungkin."
Baca Juga:Buffett: Perlombaan AI Memaksa Raksasa Teknologi Bermain di Arena yang Tak Mereka Inginkan
Perubahan itu juga tercermin dalam kebijakan anggaran pertahanan Belanda. Pemerintah menargetkan lebih dari separuh operasi militernya dalam lima tahun mendatang melibatkan sistem nirawak. Tren serupa juga terjadi di Inggris yang berencana menggelontorkan lebih dari £5 miliar atau sekitar Rp 121,2 triliun (dengan kurs Rp24.240 per poundsterling) untuk pengembangan teknologi tersebut dalam periode yang sama.
Pusat pengujian teknologi itu berada di kapal GeoSea, yang sebelumnya digunakan untuk memantau dasar laut di sekitar ladang angin lepas pantai. Kini kapal tersebut menjadi basis pengoperasian drone Noa, kapal nirawak Defender, serta robot Lobster Robotics untuk memetakan ranjau bawah laut.
Seluruh perangkat itu dirancang sebagai jaringan berbagai sistem yang saling terintegrasi, sehingga model atau teknologi baru dapat ditambahkan maupun diganti tanpa perlu membangun ulang keseluruhan sistem operasi.
Menurut Feenstra, penggunaan sistem nirawak bukan sekadar mengikuti tren teknologi. "Tujuannya adalah melakukan sebanyak mungkin pekerjaan dengan sistem nirawak agar manusia tidak berada di zona berbahaya," katanya.
Menurutnya, tuntutan kecepatan, kapasitas, dan besarnya volume informasi membuat pekerjaan semakin kompleks, sementara sebagian tugas pengawasan juga sangat monoton jika terus dilakukan manusia.
Dalam praktiknya, ketika muncul perintah untuk memantau sebuah kapal, dua kapal Defender segera bergerak, dua drone Noa berbahan serat karbon diterbangkan, sementara satu drone lain yang menyerupai kelelawar raksasa terbang di ketinggian untuk memperluas cakupan pengawasan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Al-Hilal vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: The Blue Waves Amankan 3 Poin di Kandang!
Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai
Prediksi Skor Udinese vs Venezia di Coppa Italia: Sang Zebra Kecil Berpeluang Menang di Friuli!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Kasus Penipuan Rp 3,5 Miliar Dihentikan Usai Ruben Onsu Berdamai dengan Pelapor
Profil Matheus Lagoa! Legenda dan Kapten Anapolis, Puzzle Terakhir Persebaya Surabaya
Prediksi Skor West Ham vs Wolverhampton, Kemenangan Perdana atau Lanjutkan Tren Positif
Obligasi Danantara: Dana Murah Pembangunan yang Rentan TPPU?
Breaking News! Persebaya Surabaya Rekrut Kapten Anapolis FC Matheus Lagoa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
