
Alex Turner mundur dari Google DeepMind karena keberatan atas kemitraan AI dengan Pentagon / Foto: (Business Insider)
JawaPos.com — Gelombang perdebatan mengenai penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk kepentingan militer kembali menguat setelah seorang peneliti Google DeepMind mengundurkan diri karena menolak keterlibatan perusahaan dalam kerja sama AI dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon). Keputusan tersebut menyoroti meningkatnya ketegangan antara ambisi teknologi raksasa AI dan tuntutan transparansi serta pengawasan etika.
Alex Turner, seorang ilmuwan riset yang telah bekerja lebih dari dua tahun di bidang keamanan AI Google DeepMind, mengatakan dirinya meninggalkan perusahaan pada Juni setelah Google menyepakati penggunaan teknologi AI untuk operasi rahasia Pentagon. Dia menilai keputusan tersebut bertentangan dengan prinsip pribadinya mengenai pengembangan AI yang aman dan bertanggung jawab.
Dilansir dari Business Insider, Kamis (16/7/2026), Pentagon pada awal Mei mengonfirmasi telah menandatangani kesepakatan dengan Google bersama sejumlah perusahaan teknologi lain, termasuk Microsoft, Amazon, dan OpenAI, untuk penggunaan AI dalam “operasi yang sah”. Turner mengatakan keputusan Google tersebut membuatnya tidak lagi dapat bertahan di perusahaan. “Ketika Google menandatangani kesepakatan itu, hati nurani saya hanya berkata, ‘tidak bisa,’” ujarnya.
Menurut Turner, dia sebenarnya mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan Google sejak Februari ketika muncul kemungkinan perusahaan akan menjalin kerja sama dengan Pentagon. Namun, dia mengaku masih berharap dapat bertahan hingga beberapa bulan ke depan apabila kesepakatan tersebut tidak terjadi. “Saya pikir saya akan bertahan beberapa bulan lagi jika mereka tidak menandatangani kesepakatan itu. Ketika Google menandatanganinya, saya tidak bisa lagi melakukan pekerjaan apa pun. Otak saya berkata, ‘tidak,’” tulis Turner dalam blog pribadinya.
Kekhawatiran Turner berakar pada penggunaan AI untuk kebutuhan militer, khususnya karena kontrak rahasia dapat membatasi pengawasan publik terhadap cara teknologi tersebut digunakan. Sebelumnya, sekitar 600 karyawan Google dari hampir 195.000 pekerja menandatangani petisi yang meminta perusahaan tidak terlibat dalam proyek AI rahasia bersama Pentagon.
Selain Turner, sejumlah karyawan lain juga menyuarakan keberatan. Salah satu peneliti DeepMind menyatakan dirinya “malu” atas kerja sama tersebut, sementara karyawan lain mengajukan surat pengunduran diri internal pada Mei dengan alasan meningkatnya hubungan Google dengan militer Amerika Serikat.
Google menegaskan tetap berkomitmen terhadap prinsip penggunaan AI secara bertanggung jawab. Seorang juru bicara perusahaan mengatakan, “Kami tetap berkomitmen pada konsensus sektor swasta dan publik bahwa AI tidak boleh digunakan untuk pengawasan massal domestik atau senjata otonom tanpa pengawasan manusia yang tepat.”
Perdebatan ini juga berkaitan dengan perubahan prinsip AI Google pada awal 2025. Saat itu, perusahaan menghapus komitmen yang sebelumnya menyatakan tidak akan mengembangkan AI untuk senjata atau pengawasan massal. Perubahan tersebut memicu kritik dari sebagian karyawan, termasuk Turner yang mempertanyakan konsistensi kepemimpinan Google DeepMind.
Sebelum mundur, Turner telah mengusulkan kerangka kerja penggunaan AI militer yang mencakup aturan agar manusia tetap memiliki kendali terhadap sistem penargetan berbasis AI. Dia juga berdiskusi dengan Kepala Ilmuwan Google Jeff Dean dan mengirimkan proposal tersebut kepada CEO Google DeepMind Demis Hassabis untuk dievaluasi. Namun, setelah beberapa pembahasan, Turner mengatakan komunikasi tersebut berhenti sebelum Pentagon mengumumkan kesepakatan AI.
“Pada titik itu, saya tidak bisa tetap bekerja di Google dengan hati nurani yang bersih, jadi saya pergi,” tulis Turner. Setelah meninggalkan perusahaan, dia kini berfokus pada pekerjaan independen di bidang keamanan dan keselamatan AI sambil menentukan langkah berikutnya. Keputusannya tersebut mencerminkan tantangan yang semakin besar bagi perusahaan teknologi global dalam menyeimbangkan ambisi pengembangan AI, kepentingan pertahanan, serta tuntutan etika dari para peneliti yang mengembangkan teknologi tersebut.

Alasan Mengapa Jude Bellingham Menampar Pemain Argentina Setelah Inggris Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Rekor Pertemuan Lengkap Argentina vs Spanyol, Mencari Juara Sejati di Final Piala Dunia 2026
Menteri PU Dody Hanggodo Ungkap 10.000 Pegawai Terindikasi Judol dan Masalah Absensi
Analisis Prediksi Bursa Inggris vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Albiceleste Sudah Teruji hingga 120 Menit
Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Profil Simson Rarameha Ngadang alias Temon: Lulusan Psikologi UI yang Memilih Jadi Komedian
Analisis Prediksi Bursa Spanyol vs Argentina di Piala Dunia 2026: La Roja Lebih Dijagokan Juara Piala Dunia 2026
Jude Bellingham Ungkap Adu Argumennya dengan Lionel Messi saat Inggris Tumbang dari Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026
3 Fakta Statistik yang Untungkan Spanyol Kalahkan Argentina di Final Piala Dunia 2026, Luis de la Fuente Punya Pola Juara
