Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 5 Juni 2026 | 03.19 WIB

OECD: Krisis Energi Teluk Ancam Ekonomi Global, Risiko Krisis Setara Pandemi Menguat

Tabung gas elpiji di Bengaluru, India, di tengah kekhawatiran dampak krisis energi Teluk terhadap ekonomi global / Foto: Financial Times - Image

Tabung gas elpiji di Bengaluru, India, di tengah kekhawatiran dampak krisis energi Teluk terhadap ekonomi global / Foto: Financial Times

JawaPos.com — Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), atau Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, memperingatkan bahwa eskalasi krisis energi di kawasan Teluk dapat mengguncang stabilitas ekonomi global dan menyeret dunia ke fase perlambatan tajam yang setara dengan periode krisis besar seperti pandemi Covid-19. 

Lembaga tersebut menilai gangguan berkepanjangan pada pasokan energi akan menjadi risiko sistemik bagi perekonomian dunia. OECD menyebut kegagalan meredakan ketegangan di Timur Tengah berpotensi memicu “dark scenario”, yakni kondisi ketika pertumbuhan global jatuh bersamaan dengan lonjakan suku bunga di berbagai negara maju. Dalam laporan terbarunya, OECD menegaskan bahwa gangguan panjang terhadap aliran energi akan menekan stabilitas harga, rantai pasok, dan kepercayaan pasar global.

Dilansir dari Financial Times, Kamis (4/6/2026), OECD menyatakan bahwa “prolonged disruption” atau gangguan berkepanjangan pada arus energi yang berlanjut hingga paruh kedua 2027 dapat memangkas pertumbuhan global menjadi 2,1 persen pada tahun ini dan hanya 1,8 persen pada tahun depan. Laporan itu juga menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait sebagai respons atas serangan AS di wilayah Iran selatan.

Dalam skenario dasar OECD, pertumbuhan global diperkirakan berada di 2,8 persen tahun ini, turun dari 3,4 persen pada 2025, sebelum pulih ke 3,1 persen pada 2027 apabila kondisi stabil. Namun, jika gangguan energi berlanjut, volatilitas harga energi diperkirakan tetap tinggi dan terus menekan aktivitas perdagangan serta produksi global.

Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan melambat menjadi 2 persen tahun ini, sementara inflasi diperkirakan mencapai 3,7 persen, jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2 persen. Di Inggris, inflasi juga berada pada level yang sama, menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G7.

Di kawasan zona euro, pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat dari 1,4 persen menjadi 0,8 persen tahun ini sebelum naik menjadi 1,2 persen pada 2027. OECD juga mencatat Irlandia berpotensi mengalami kontraksi ekonomi sebesar 1 persen pada 2026 akibat ketidakpastian global dan lonjakan harga energi, meskipun permintaan domestik yang disesuaikan diproyeksikan tetap tumbuh moderat.

Menteri Keuangan Irlandia yang juga menjabat Tánaiste (wakil perdana menteri), Simon Harris, menyatakan bahwa proyeksi tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap perekonomian global. 

“Proyeksi ini secara umum sejalan dengan penilaian kami terhadap kondisi ekonomi, namun menegaskan bahwa lingkungan internasional saat ini semakin menantang. Secara keseluruhan, analisis OECD menegaskan pentingnya bagi kami untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan dalam situasi yang sangat tidak pasti ini.”

OECD juga memperingatkan bahwa sekitar sepertiga negara anggotanya berisiko mengalami penurunan upah riil, yang berarti pelemahan daya beli masyarakat akibat inflasi yang persisten. Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann menegaskan, “Saya berharap kita belum memasuki skenario gangguan berkepanjangan ini, karena ini adalah skenario yang sangat gelap.”

Kepala Ekonom OECD Stefano Scarpetta menyoroti dampak jangka panjang dari guncangan energi tersebut. Dia menyebut, “Hal ini akan menimbulkan efek permanen terhadap kapasitas output potensial,” sekaligus memperingatkan risiko lanjutan terhadap pasar keuangan global, kepercayaan investor, serta investasi di sektor strategis seperti kecerdasan buatan yang sangat bergantung pada ketersediaan energi.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore