
Representasi huruf “AI” berada di atas rangkaian perangkat keras komputer, menggambarkan bagaimana teknologi ini mulai terhubung dengan sistem keuangan modern. (Reuters)
JawaPos.com - Sejumlah bank sentral di berbagai kawasan mengaku masih sangat berhati-hati dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Dilansir dari Reuters, teknologi tersebut dinilai membantu pekerjaan teknis seperti merangkum data atau mendeteksi pola, namun belum dianggap aman untuk keputusan penting. Kekhawatiran terbesar adalah risiko kesalahan sistem yang bisa mempengaruhi stabilitas pasar.
Menurut laporan yang dikutip dari Investing.com, sebagian besar bank sentral juga menghadapi tantangan dalam mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Meskipun ada keinginan untuk memperluas cadangan ke mata uang lain, dolar tetap menjadi pilihan utama karena likuiditasnya tinggi dan dianggap paling stabil di tengah ketidakpastian global.
The Economic Times melaporkan bahwa sekitar 93% bank sentral tidak memasukkan aset digital seperti cryptocurrency ke dalam portofolio cadangan. Nilai yang tidak stabil dan risiko regulasi menjadi alasan utama. Meski teknologi tokenisasi mulai menarik perhatian, bank sentral masih menilai penggunaannya terlalu dini untuk kebutuhan cadangan devisa.
Sementara itu, analisis dari Barron’s menunjukkan beberapa bank sentral memilih menambah porsi emas sebagai langkah diversifikasi yang lebih aman. Namun, opsi lain seperti euro dan yuan masih dianggap belum mampu menggantikan dominasi dolar. Kekuatan pasar dan struktur ekonomi global membuat dolar tetap berada di posisi teratas.
Dari laporan OMFIF sebagaimana disampaikan melalui situs resminya, bank sentral menekankan bahwa penggunaan AI dalam skala besar dapat memunculkan risiko baru. Jika terlalu banyak institusi mengandalkan model yang sama, respons pasar bisa menjadi seragam dan memperbesar dampak krisis. Karena itu, pendekatan yang lebih hati-hati masih menjadi pilihan utama.
Secara umum, berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan dalam sistem cadangan devisa global berlangsung perlahan. Bank sentral memang mulai melirik teknologi dan instrumen baru, tetapi faktor keamanan dan kestabilan pasar membuat dolar tetap sulit digantikan dalam waktu dekat. (*)

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
