Stolen Generations, generasi anak-anak Aborigin dan Penduduk Kepulauan Torres Strait yang dipisahkan dari keluarga mereka akibat kebijakan pemerintah Australia (Dok. Australian Museum)
JawaPos.com - Setiap tanggal 26 Mei, Australia memperingati National Sorry Day, sebuah hari yang penuh makna dan emosi mendalam. Dikenang sebagai hari penyesalan nasional, peringatan ini bertujuan untuk menghormati dan mengenang Stolen Generations, yakni generasi anak-anak Aborigin dan Penduduk Kepulauan Torres Strait yang secara paksa dipisahkan dari keluarga mereka akibat kebijakan pemerintah yang berbasis ras antara tahun 1910 hingga 1970-an.
Melansir dari Victorian Equal Opportunity and Human Rights Commission, selama periode itu, ribuan anak Pribumi diambil dari keluarga mereka oleh kebijakan negara bagian dan federal. Banyak dari mereka mengalami kekerasan fisik dan seksual, kerja paksa, serta terlantar.
Makna di Balik Tanggal 26 Mei
Tanggal National Sorry Day bukan dipilih secara acak. Dilansir dari Victorian Equal Opportunity and Human Rights Commission, 26 Mei juga menandai dirilisnya laporan penting bertajuk Bringing Them Home pada tahun 1997 berupa hasil penyelidikan nasional yang mengungkap dampak mendalam dari kebijakan pemisahan paksa. Laporan ini memberikan 54 rekomendasi yang kuat, termasuk permintaan maaf nasional, pemberian kompensasi, serta peningkatan layanan bagi para penyintas.
Namun, hampir tiga dekade setelah laporan itu diterbitkan, banyak rekomendasinya masih belum dijalankan sepenuhnya. Dua dekade kemudian, pada 26 Mei 2017, muncul momentum penting lainnya yaitu, The Uluru Statement from the Heart. Pernyataan ini merupakan seruan dari masyarakat First Nations agar Australia mengakui hak konstitusional dan memberi ruang bagi reformasi struktural demi kesetaraan, penghormatan, dan rekonsiliasi antara masyarakat Pribumi dan non-Pribumi.
Akar Sejarah Stolen Generations
Dikutip dari Australian Museum, berbagai undang-undang kolonial menjadi dasar dari kebijakan pemisahan anak-anak Aborigin. Salah satu yang paling awal adalah Victorian Aboriginal Protection Act 1869, yang memberi wewenang bagi pemerintah untuk memindahkan masyarakat Aborigin dari wilayah adat atau reserves agar mereka dapat diasimilasikan ke dalam masyarakat kulit putih.
Kemudian pada tahun 1883, di New South Wales dibentuk Board for the Protection of Aborigines, yang disebut-sebut bertujuan membantu meningkatkan ras Aborigin melalui pendidikan dasar, bantuan sandang pangan, dan pemberian lahan atau alat kerja. Namun, di balik misi kemanusiaan itu tersembunyi upaya untuk menghapus identitas budaya masyarakat Pribumi.
Puncaknya terjadi pada tahun 1915, ketika Aborigines Protection Amending Act 1915 (NSW) disahkan. Undang-undang ini memberi kekuasaan penuh kepada dewan untuk mengambil anak-anak Aborigin tanpa perlu pembuktian hukum bahwa anak-anak itu mengalami penelantaran. Inilah awal dari generasi yang kemudian dikenal sebagai Stolen Generations, mereka yang direnggut dari keluarga, budaya, dan tanah leluhurnya demi agenda asimilasi paksa.
Perjalanan Menuju National Sorry Day
Sejak laporan itu diterbitkan, gerakan masyarakat mulai dilancarkan. Pada tahun 1998, ribuan warga Australia ikut serta dalam kampanye Sorry Book, yang kemudian melahirkan National Sorry Day pertama pada 26 Mei 1998. Gerakan ini disebut sebagai people's apology atau permintaan maaf dari rakyat untuk rakyat.
Antara 1997 hingga 1999, seluruh parlemen negara bagian dan teritori Australia menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Stolen Generations serta keluarga mereka. Namun, pemerintah federal saat itu belum melakukan hal serupa.
Pada tahun 1999, pemerintah Australia hanya menyampaikan Motion of Reconciliation di parlemen, yaitu sebuah pernyataan penyesalan mendalam, namun bukan permintaan maaf resmi. Ketegangan ini memuncak pada Mei 2000, ketika sekitar 250.000 warga Australia berjalan melintasi Sydney Harbour Bridge dalam aksi simbolis menuntut rekonsiliasi dan permintaan maaf nasional. Aksi serupa juga terjadi di berbagai kota lain di seluruh negeri.
Perjalanan panjang menuju permintaan maaf resmi akhirnya mencapai puncaknya pada 13 Februari 2008. Dikutip dari Australian Institute of Aboriginal and Torres Strait Islander Studies (AIATSIS), Perdana Menteri Kevin Rudd saat itu menyampaikan National Apology kepada anggota Stolen Generations atas nama parlemen Australia.

Prediksi Skor Afrika Selatan vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Penentu Les Rouges Lolos 16 Besar
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
