Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Oktober 2025 | 02.32 WIB

National Sorry Day: Mengingat Luka Generasi Australia yang Hilang

Stolen Generations, generasi anak-anak Aborigin dan Penduduk Kepulauan Torres Strait yang dipisahkan dari keluarga mereka akibat kebijakan pemerintah Australia (Dok. Australian Museum)

JawaPos.com - Setiap tanggal 26 Mei, Australia memperingati National Sorry Day, sebuah hari yang penuh makna dan emosi mendalam. Dikenang sebagai hari penyesalan nasional, peringatan ini bertujuan untuk menghormati dan mengenang Stolen Generations, yakni generasi anak-anak Aborigin dan Penduduk Kepulauan Torres Strait yang secara paksa dipisahkan dari keluarga mereka akibat kebijakan pemerintah yang berbasis ras antara tahun 1910 hingga 1970-an.

Melansir dari Victorian Equal Opportunity and Human Rights Commission, selama periode itu, ribuan anak Pribumi diambil dari keluarga mereka oleh kebijakan negara bagian dan federal. Banyak dari mereka mengalami kekerasan fisik dan seksual, kerja paksa, serta terlantar.

Makna di Balik Tanggal 26 Mei

Tanggal National Sorry Day bukan dipilih secara acak. Dilansir dari Victorian Equal Opportunity and Human Rights Commission, 26 Mei juga menandai dirilisnya laporan penting bertajuk Bringing Them Home pada tahun 1997 berupa hasil penyelidikan nasional yang mengungkap dampak mendalam dari kebijakan pemisahan paksa. Laporan ini memberikan 54 rekomendasi yang kuat, termasuk permintaan maaf nasional, pemberian kompensasi, serta peningkatan layanan bagi para penyintas.

Namun, hampir tiga dekade setelah laporan itu diterbitkan, banyak rekomendasinya masih belum dijalankan sepenuhnya. Dua dekade kemudian, pada 26 Mei 2017, muncul momentum penting lainnya yaitu, The Uluru Statement from the Heart. Pernyataan ini merupakan seruan dari masyarakat First Nations agar Australia mengakui hak konstitusional dan memberi ruang bagi reformasi struktural demi kesetaraan, penghormatan, dan rekonsiliasi antara masyarakat Pribumi dan non-Pribumi.

Akar Sejarah Stolen Generations

Dikutip dari Australian Museum, berbagai undang-undang kolonial menjadi dasar dari kebijakan pemisahan anak-anak Aborigin. Salah satu yang paling awal adalah Victorian Aboriginal Protection Act 1869, yang memberi wewenang bagi pemerintah untuk memindahkan masyarakat Aborigin dari wilayah adat atau reserves agar mereka dapat diasimilasikan ke dalam masyarakat kulit putih.

Kemudian pada tahun 1883, di New South Wales dibentuk Board for the Protection of Aborigines, yang disebut-sebut bertujuan membantu meningkatkan ras Aborigin melalui pendidikan dasar, bantuan sandang pangan, dan pemberian lahan atau alat kerja. Namun, di balik misi kemanusiaan itu tersembunyi upaya untuk menghapus identitas budaya masyarakat Pribumi.

Puncaknya terjadi pada tahun 1915, ketika Aborigines Protection Amending Act 1915 (NSW) disahkan. Undang-undang ini memberi kekuasaan penuh kepada dewan untuk mengambil anak-anak Aborigin tanpa perlu pembuktian hukum bahwa anak-anak itu mengalami penelantaran. Inilah awal dari generasi yang kemudian dikenal sebagai Stolen Generations, mereka yang direnggut dari keluarga, budaya, dan tanah leluhurnya demi agenda asimilasi paksa.

Perjalanan Menuju National Sorry Day

Sejak laporan itu diterbitkan, gerakan masyarakat mulai dilancarkan. Pada tahun 1998, ribuan warga Australia ikut serta dalam kampanye Sorry Book, yang kemudian melahirkan National Sorry Day pertama pada 26 Mei 1998. Gerakan ini disebut sebagai people's apology atau permintaan maaf dari rakyat untuk rakyat.

Antara 1997 hingga 1999, seluruh parlemen negara bagian dan teritori Australia menyampaikan permintaan maaf resmi kepada Stolen Generations serta keluarga mereka. Namun, pemerintah federal saat itu belum melakukan hal serupa.

Pada tahun 1999, pemerintah Australia hanya menyampaikan Motion of Reconciliation di parlemen, yaitu sebuah pernyataan penyesalan mendalam, namun bukan permintaan maaf resmi. Ketegangan ini memuncak pada Mei 2000, ketika sekitar 250.000 warga Australia berjalan melintasi Sydney Harbour Bridge dalam aksi simbolis menuntut rekonsiliasi dan permintaan maaf nasional. Aksi serupa juga terjadi di berbagai kota lain di seluruh negeri.

Perjalanan panjang menuju permintaan maaf resmi akhirnya mencapai puncaknya pada 13 Februari 2008. Dikutip dari Australian Institute of Aboriginal and Torres Strait Islander Studies (AIATSIS), Perdana Menteri Kevin Rudd saat itu menyampaikan National Apology kepada anggota Stolen Generations atas nama parlemen Australia.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore