
Ilustrasi Bangkai Titanic. (mollybrown.org)
JawaPos.com - Pada 10 April 1912, RMS Titanic berlayar dari Southampton, Inggris, menuju New York City dalam pelayaran perdananya. Digadang sebagai kapal paling mewah dan terbesar di dunia saat itu, Titanic membawa lebih dari 2.200 penumpang dan awak.
Namun, empat hari kemudian, kapal impian itu tenggelam di Samudra Atlantik setelah menabrak gunung es, menewaskan sekitar 1.500 orang. Tragedi ini menjadi salah satu bencana maritim paling mematikan dalam sejarah masa damai. Seperti dicatat oleh Encyclopaedia Britannica, Titanic hanya mampu bertahan selama kurang dari tiga jam setelah tabrakan terjadi pada pukul 23.40 malam, 14 April 1912.
Titanic dibangun oleh Harland & Wolff di Belfast, Irlandia Utara, dan dimiliki oleh White Star Line, perusahaan yang dikendalikan oleh taipan Amerika, J.P. Morgan. Kapal ini dirancang dengan 16 kompartemen kedap air dan diyakini mampu tetap mengapung meski empat di antaranya rusak.
Namun, tabrakan dengan gunung es menyebabkan kerusakan pada lima kompartemen sekaligus.
“Awalnya diyakini gunung es menciptakan celah panjang di lambung kapal, tapi penelitian menunjukkan adanya retakan kecil dan pelat baja yang terlepas akibat benturan,” tulis tim peneliti dalam laporan Britannica.
Salah satu penyebab tingginya jumlah korban adalah minimnya jumlah sekoci. Titanic hanya membawa 20 sekoci, cukup untuk sekitar 1.178 orang, yang di mana hal tersebut jauh dari total penumpang dan awak.
Meski jumlah tersebut memenuhi standar internasional saat itu, tragedi ini memicu perubahan besar dalam regulasi keselamatan pelayaran.
“Kapal ini mematuhi aturan, tapi aturan itu sendiri tidak cukup,” ujar penyelidik dalam sidang Kongres AS, seperti dikutip oleh National Archives.
Penemuan bangkai Titanic pada 1 September 1985 oleh ekspedisi gabungan AS dan Prancis mengungkap kondisi kapal yang terbelah dua di kedalaman 3.800 meter. Bagian haluan masih utuh, sementara buritan hancur parah.
Penemuan ini menjadi titik balik dalam studi arkeologi bawah laut dan memicu minat global terhadap sejarah Titanic.
“Kami menemukan ketenangan yang menyedihkan di dasar laut,” ujar Robert Ballard, pemimpin ekspedisi, dalam wawancara dengan NOAA.
Titanic bukan sekadar kapal, melainkan simbol ambisi manusia yang takluk oleh alam. Dari kemewahan yang menjanjikan hingga malam kelam yang menelan harapan, kisah Titanic terus hidup dalam buku, film, dan museum. Ia tenggelam, tapi namanya tak pernah hilang dari ingatan dunia. (*)

Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
Prediksi Skor PSMS Medan vs Port FC Piala Presiden 2026: Debut Bruno Moreira Usai Tinggalkan Persebaya Surabaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Prediksi Susunan Pemain PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Port Lions Masih Terlalu Digdaya!
Profil Fajar Listyantara, Legenda PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta yang Meninggal Dunia Akibat Gagal Ginjal
5 Bintang Sepak Bola yang Alami Kenaikan Nilai Pasar setelah Piala Dunia FIFA 2026
Prediksi PSMS Medan vs Port FC di Piala Presiden 2026: Ujian Berat Ayam Kinantan Hadapi Sang Juara Bertahan
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Piala Presiden 2026: Momentum Green Force Unjuk Gigi
