Korban anak di Gaza Palestina karena serangan Israel. (Terre Des Hommes)
JawaPos.com - Serangan udara dan darat Israel di Jalur Gaza kembali menelan korban besar. Sedikitnya 61 warga Palestina tewas sejak Rabu (1/10) dini hari, ketika serangan menyasar sekolah, rumah warga, hingga kamp pengungsian.
Kekerasan ini terus berlanjut meski Hamas dikabarkan telah mempertimbangkan rencana gencatan senjata yang diusulkan Amerika Serikat.
Salah satu serangan paling mematikan terjadi di Sekolah al-Falah di kawasan Zeitoun, Gaza City, yang selama ini digunakan sebagai tempat perlindungan bagi ratusan pengungsi.
Dua rudal menghantam gedung sekolah, disusul serangan kedua yang menargetkan tim penyelamat sipil yang tengah mengevakuasi korban. Di antara korban luka berat adalah Munther Al-Dahshan, anggota Pertahanan Sipil Palestina, yang kemudian meninggal dunia.
“Ketika tim berusaha menarik orang-orang dari reruntuhan, mereka justru menjadi sasaran serangan lanjutan,” ujar jurnalis Al Jazeera, Ibrahim al-Khalili.
Laporan medis menyebutkan, serangan lain menghantam sebuah rumah di Daraj, menewaskan tujuh orang. Di kawasan Zeitoun selatan, seorang anak juga dilaporkan tewas. Sementara di kamp pengungsi Nuseirat dan Bureij, serangan udara menewaskan sedikitnya tiga warga sipil.
Hingga Rabu malam, 44 dari 61 korban jiwa tercatat di Gaza City. Serangan bertubi-tubi telah meratakan kawasan perkotaan terbesar di Gaza, menghancurkan rumah, sekolah, serta memaksa puluhan ribu warga mengungsi ke arah selatan melalui jalur berbahaya.
Kondisi kemanusiaan juga kian genting. Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengumumkan penghentian sementara operasi di Gaza City karena situasi keamanan. Keputusan serupa juga sudah dilakukan Dokter Tanpa Batas (MSF) pekan lalu.
Di saat yang sama, Rumah Sakit al-Shifa, pusat medis terbesar di Gaza, terus berada di bawah gempuran. Setidaknya 11 jenazah tak dikenal dimakamkan dalam kuburan massal di halaman rumah sakit. Pasien ginjal yang membutuhkan cuci darah disebut berada dalam kondisi sangat berisiko akibat terputusnya layanan medis.
“Jalan al-Rashid, salah satu jalur vital penghubung antarwilayah Gaza, juga telah ditutup militer Israel,” kata kantor media pemerintah Gaza. Penutupan ini semakin menyulitkan ribuan warga yang mencoba mengungsi ke selatan.
Selain itu, dilaporkan juga kalau banyak pengungsi yang kini mencari tempat aman di pesisir Gaza. Namun kondisi penampungan darurat sangat minim.
“Keadaannya benar-benar darurat dan penuh sesak,” lapor jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud.
Mohammed al-Turkmani, warga Gaza City yang mengungsi bersama istri dan anak-anaknya, kini tinggal di tenda darurat dekat pantai. “Saya tidak tahu bagaimana kami bisa bertahan di sini. Musim dingin akan datang, tenda ini bisa hancur kapan saja,” ujarnya.
Di tengah krisis, Global Sumud Flotilla yang berupaya menembus blokade laut Israel mengumumkan sudah memasuki 'zona berisiko tinggi', sekitar 150 mil laut (278 km) dari Gaza. Upaya serupa sebelumnya sering kali diblokir atau diserang pasukan Israel.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Prediksi Skor Prancis vs Maroko: Bandar Taruhan Klaim Les Bleus Menang 90 Menit, Opta Beri Peluang Pasti 60,9 Persen
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
