Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 September 2025 | 23.15 WIB

Donald Trump Sindir PBB dan Klaim Layak Mendapatkan Hadiah Nobel Perdamaian

Foto Pidato Presiden Donald Trump pada KTT AI Gedung Putih di Auditorium Andrew W. Mellon, Washington, D.C. (The White House)

JawaPos.com – Dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA), Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap otoritarianisme, kerusakan lingkungan, hingga ketidaksetaraan. Sikap ini tampak kontras dengan retorikanya sendiri yang selama ini menekankan kekuatan unilateral, nasionalisme, serta keluhan politik.

Seperti dilansir Aljazeera, Trump membuka pidatonya dengan menyinggung teleprompter dan eskalator rusak yang ia jumpai di markas PBB. Setelah itu, ia menggambarkan pemerintahannya sedang mengawasi kisah sukses ekonomi di dalam negeri.

Dalam beberapa kesempatan, Trump menyinggung pencapaian kebijakan luar negerinya. Ia mengklaim telah berhasil mengakhiri tujuh perang berbeda, bahkan menyebut dirinya pantas menerima Hadiah Nobel Perdamaian, meskipun menegaskan bahwa ia lebih mementingkan penyelamatan nyawa ketimbang penghargaan.

Trump juga menyindir PBB yang dinilainya belum mampu mencapai potensi maksimal.

“Saya harus mengakhiri perang, bukan Perserikatan Bangsa-Bangsa,” ujarnya dalam sidang UNGA di New York, Selasa (23/9/2025).

Menyinggung perang Rusia–Ukraina, Trump menegaskan bahwa invasi besar-besaran Moskow pada 2022 tidak akan pernah terjadi bila dirinya masih menjadi presiden. Ia menggambarkan hubungannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin cukup baik, namun menyebut perang yang berlarut-larut justru memperburuk citra Rusia.

Trump juga mengecam Eropa yang masih membeli minyak dan gas Rusia meski ada sanksi, menyebutnya sebagai tindakan memalukan. Tak hanya itu, ia menuding Tiongkok dan India sebagai penyumbang utama dana perang Rusia.

“Semua orang mengira Rusia akan menang dalam tiga hari, nyatanya tidak,” kata Trump sembari mendesak Uni Eropa menjatuhkan tarif terhadap Moskow.

Di saat PBB menghadapi salah satu periode paling bergejolak dalam 80 tahun sejarahnya, Trump justru menjadikan forum tersebut untuk menyerang organisasi dunia itu. Ia menuduh PBB membiayai masuknya imigran ilegal ke AS dengan memberi bantuan makanan, tempat tinggal, transportasi, hingga kartu debit.

Padahal, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), badan PBB yang menangani isu migrasi, memang memberikan dukungan berupa kartu debit dan layanan transportasi, tetapi dilakukan melalui koordinasi resmi dengan pemerintah, bukan untuk memfasilitasi penyebrangan ilegal.

Trump juga menebar peringatan soal “invasi imigran” di Eropa, bahkan menyasar Wali Kota London Sadiq Khan dengan klaim menyesatkan bahwa politisi Muslim tersebut ingin menerapkan hukum Islam.

Lebih jauh, ia menyebut imigrasi dan energi terbarukan sebagai ancaman terbesar bagi dunia. Trump menuding sejumlah negara akan hancur karena kebijakan perbatasannya sendiri, seraya menyebut perubahan iklim sebagai “penipuan terbesar”.

“Sebagai penutup, saya ingin menegaskan kembali bahwa imigrasi serta biaya tinggi dari energi terbarukan yang disebut ramah lingkungan tengah menghancurkan banyak negara dan planet kita,” ucapnya.

Trump bahkan memperbarui serangannya terhadap kebijakan iklim serta menuding Presiden Venezuela Nicolas Maduro terlibat dalam penyelundupan narkoba.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore