Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 Agustus 2025 | 16.23 WIB

Untuk Pertama Kalinya, Gaza Resmi Dinyatakan Mengalami Kelaparan Menurut Lembaga PBB

Warga di Gaza mengalami kelaparan setelah keterbatasan bantuan yang diberikan akibat dari konflik antara Israel dan Palestina (ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad) - Image

Warga di Gaza mengalami kelaparan setelah keterbatasan bantuan yang diberikan akibat dari konflik antara Israel dan Palestina (ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad)

JawaPos.com - Konflik antara Israel dan Palestina berada dalam titik genting, setelah sebagian kota Gaza dan area sekitarnya resmi dilanda kelaparan pada Jumat (22/8), menurut lembaga terpercaya dalam memonitor kelaparan, Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu atau IPC.

Berdasarkan laporan dari lembaga yang didukung PBB tersebut, setidaknya sebanyak 514 ribu orang, atau seperempat dari penduduk Palestina di Gaza, mengalami krisis kelaparan, dan angka tersebut akan meningkat menjadi 641 ribu orang pada akhir bulan September, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Sebanyak 280 ribu dari total penduduk yang mengalami krisis pangan berada di wilayah bagian utara kota Gaza, yang dikenal sebagai provinsi Gaza, di mana IPC mengatakan daerah tersebut mengalami kelaparan setelah konflik yang berlangsung selama dua tahun.

Ini merupakan pertama kalinya IPC melaporkan adanya kelaparan di luar benua Afrika, dan lembaga tersebut memprediksi daerah sekitar seperti Deir al-Balah dan Khan Younis akan ikut dilanda kelaparan pada akhir bulan depan.

Kota Gaza memang memiliki krisis pangan setelah Israel membatasi bantuan yang masuk secara besar-besaran sejak bulan Maret, namun perlahan kembali mengizinkan bantuan pangan ke area tersebut setelah mendapatkan kecaman global.

Beberapa pejabat tertinggi PBB merespons keras kejadian ini, dan juga mengkritik Pemerintah Israel karena kebijakan yang dibuat.

Salah satunya adalah Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, yang menyebut kelaparan di Gaza merupakan bencana buatan manusia dan kegagalan kemanusiaan.

“Kelaparan bukanlah soal makanan saja; itu merupakan kehancuran yang disengaja kepada sistem yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup. Orang-orang kelaparan. Anak-anak sekarat. Dan mereka yang memiliki kewajiban untuk bertindak gagal,” ucapnya, dikutip dari Al Jazeera.

Selain itu, Philippe Lazzarini, ketua badan PBB untuk orang Palestina, UNRWA, menyorot bahwa sekarang waktunya untuk memiliki kemauan politik untuk menghentikan kelaparan yang sudah dipastikan ada di Kota Gaza dan sekitarnya.

“Kita tidak boleh membiarkan situasi ini untuk berlanjut tanpa konsekuensi hukum. Tidak ada lagi alasan. Waktu untuk beraksi bukanlah pada esok hari, melainkan sekarang,” ujar Lazzarini.

Kepala bantuan PBB, Tom Fletcher, menyebutkan bahwa krisis kelaparan ini merupakan sebuah "senjata perang yang dipromosikan secara terbuka oleh para petinggi Israel" dan mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk segera membuka kembali akses penuh di perlintasan Gaza.

Sedangkan di sisi lain, Pemerintah Israel membantah adanya kelaparan di Gaza, dan juga menyebut krisis berdasarkan dari laporan IPC sebagai sebuah kebohongan yang didorong oleh kelompok militan Palestina, Hamas.

“Laporan IPC tersebut adalah sebuah laporan yang benar-benar bohong. Israel tidak memiliki kebijakan kelaparan (di Gaza),” tanggap Perdana Menteri Netanyahu melalui postingan di X, dikutip dari Associated Press.

Selain itu, Departemen Luar Negeri AS juga meragukan laporan IPC tersebut. Mereka menyebut bahwa situasi kemanusiaan yang terjadi di Gaza merupakan kekhawatiran yang patut diseriusi, namun menyalahkan Hamas dan juga para penjarah akibat kesulitan dalam pengiriman bantuan. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore