Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Agustus 2025 | 16.45 WIB

Remaja Palestina Ditembak di Mata saat Cari Makanan, Krisis Kelaparan Gaza Kian Mematikan

Remaja Palestina ditembak oleh tentara Israel saat mengantre bantuan makanan. (Al-Jazeera). - Image

Remaja Palestina ditembak oleh tentara Israel saat mengantre bantuan makanan. (Al-Jazeera).

JawaPos.com - Seorang remaja Palestina berusia 15 tahun, Abdul Rahman Abu Jazar, menjadi salah satu korban terbaru dalam krisis kemanusiaan yang memburuk di Gaza. 

Ia ditembak di mata oleh tentara Israel saat berusaha mencari makanan bagi keluarganya di dekat lokasi distribusi bantuan yang didukung Amerika Serikat dan Israel. Menurut dokter yang merawatnya, kecil kemungkinan ia dapat kembali melihat dengan mata kirinya.

Abu Jazar menceritakan kisah pilunya dari atas ranjang rumah sakit dengan mata kiri yang dibalut perban putih. "Itu pertama kalinya saya ke titik distribusi. Saya ke sana karena saya dan adik-adik saya tidak punya makanan. Kami benar-benar tak menemukan apapun untuk dimakan," ujarnya kepada Al Jazeera, dikutip Kamis (7/8).

Ia berjalan dari pukul 2 dini hari menuju area Taman al-Muntazah di Gaza City dan tiba sekitar lima jam kemudian. Saat itulah tembakan mulai dilepaskan. 

"Kami berlari ketika mereka mulai menembaki. Tiga orang di dekat saya terkena tembakan. Saat saya mulai berlari, saya seperti disetrum. Saya jatuh ke tanah dan kehilangan kesadaran," kisahnya. Ketika terbangun, ia baru tahu dirinya terkena tembakan di kepala.

Seorang dokter mencoba memeriksa respons penglihatannya dengan senter ponsel. Namun Abu Jazar tak dapat melihat cahaya apa pun. Diagnosis menunjukkan cedera tembus akibat peluru yang mengenai matanya.

Meski telah menjalani operasi, harapan untuk kembali melihat sangat tipis. "Saya berharap penglihatan saya bisa kembali, insya Allah," katanya.

Krisis Kelaparan yang Sistematis

Insiden ini terjadi di tengah kondisi kelaparan akut yang kini menyelimuti Gaza. Dalam 24 jam terakhir, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 119 jenazah, termasuk 15 yang dievakuasi dari reruntuhan, dan 866 warga terluka yang masuk ke rumah sakit. 

Dari jumlah tersebut, setidaknya 65 orang tewas saat mencoba mengakses bantuan pangan, dan 511 lainnya mengalami luka. Pada Minggu (3/8) pagi saja, menurut data rumah sakit yang dikutip Al Jazeera, 92 warga Palestina tewas akibat tembakan militer Israel, termasuk 56 orang yang sedang mencari bantuan makanan.

PBB melaporkan bahwa lebih dari 1.300 warga Palestina telah tewas sejak mereka mencoba mengakses lokasi distribusi bantuan yang dijalankan Global Humanitarian Foundation (GHF) sejak Mei lalu. Tembakan terhadap warga sipil yang antre makanan bukanlah kejadian terisolasi, melainkan bagian dari pola kekerasan yang terus berulang.

Hingga saat ini, setidaknya 175 orang, termasuk 93 anak-anak, telah meninggal akibat kelaparan dan kekurangan gizi yang disebut sebagai akibat langsung dari blokade yang diberlakukan Israel. Data dari Global Nutrition Cluster menyebut lebih dari 6.000 anak Palestina tengah dirawat akibat malnutrisi akut.

Sementara itu, berdasarkan laporan dari Deir el-Balah oleh jurnalis Al Jazeera Hind Khoudary mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan sangat jauh dari klaim adanya jeda kemanusiaan yang memungkinkan lebih banyak bantuan masuk. "Hanya sekitar 80 sampai 100 truk bantuan yang masuk setiap hari, padahal populasi Gaza sangat besar. Warga bahkan kesulitan mendapatkan sekarung tepung gandum," ujarnya.

Khoudary menegaskan bahwa warga kini sangat bergantung pada distribusi bantuan dari lembaga-lembaga internasional, namun titik-titik distribusi banyak yang tidak berfungsi sejak awal blokade. "Warga Palestina meninggal setiap hari akibat kelaparan yang dipaksakan. Dan sekarang, mereka juga dibunuh hanya karena mendekati truk bantuan karena ingin makan," katanya.

Pemerintah Gaza juga menuduh Israel secara sistematis menghalangi masuknya lebih dari 22.000 truk bantuan kemanusiaan, sebagian besar milik PBB dan organisasi internasional lainnya. Tuduhan itu menyebutkan bahwa tindakan ini adalah bagian dari kampanye terorganisir untuk menciptakan 'kelaparan, pengepungan, dan kekacauan' di wilayah yang terkepung tersebut.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore