Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 28 Juli 2025 | 18.40 WIB

Krisis Kelaparan Memburuk di Gaza di Tengah Janji 'Jeda Kemanusiaan' Israel

Beberapa ratus ribu orang masih bertahan di Rafah karena hampir separuh penduduk Gaza menghadapi tingkat kelaparan yang sangat parah. (Sumber Foto: Hatem Ali/AP)

JawaPos.com - Duka di Gaza belum usai. Di tengah janji militer Israel untuk menghentikan sementara serangan demi membuka jalur bantuan kemanusiaan, krisis kelaparan justru semakin mengganas. 

Enam warga Palestina, termasuk dua anak-anak, dilaporkan tewas akibat kelaparan dalam 24 jam terakhir. Sejak Oktober 2023, total korban jiwa akibat kelaparan mencapai 133 orang. 

Di antara mereka adalah bayi lima bulan, Zainab Abu Haleeb, yang meninggal karena malnutrisi di Rumah Sakit Nasser.

“Tiga bulan kami tinggal di rumah sakit, dan inilah yang saya dapatkan, dia meninggal,” kata ibunya, Israa Abu Haleeb, sembari sang ayah memeluk tubuh mungil putrinya yang telah dibungkus kain kafan sebagaimana dikutip via Al-Jazeera.

Kondisi ini memperkuat peringatan dari lembaga internasional. Program Pangan Dunia (WFP) mengungkapkan bahwa satu dari tiga warga Gaza kini melewati hari-hari tanpa makanan, sementara hampir 500.000 orang mengalami situasi 'mirip kelaparan'.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa lebih dari 20 persen ibu hamil dan menyusui mengalami kekurangan gizi berat.

Kisah-kisah warga menunjukkan dampak nyata dari kelangkaan pangan yang semakin parah. Falestine Ahmed, seorang ibu di Gaza, mengaku kehilangan lebih dari 15 kilogram berat tubuhnya karena kelaparan. 

“Saya dulu 57 kilogram, sekarang hanya 42. Anak saya dan saya divonis mengalami malnutrisi parah. Kami nyaris tidak punya makanan, dan harga bahan makanan sangat tidak terjangkau,” katanya kepada Al-Jazeera.

Di tengah krisis itu, Israel mengumumkan akan mengadakan 'jeda kemanusiaan' harian selama 10 jam di sejumlah wilayah seperti al-Mawasi, Deir el-Balah, dan Gaza City mulai pukul 10 pagi hingga 8 malam. 

Jalur bantuan juga dijanjikan akan dibuka dari pukul 6 pagi hingga 11 malam. Namun, pada hari pertama jeda tersebut, serangan udara justru kembali terjadi.

“Terjadi serangan udara di Gaza City, padahal ini salah satu wilayah yang diklaim sebagai zona aman,” lapor Hind Khoudary dari Al Jazeera. “Menurut warga, sebuah toko roti menjadi target serangan.”

Meskipun pengiriman bantuan dilakukan lewat jalur darat dan udara, jumlahnya masih sangat minim dan penuh risiko. Bantuan yang dijatuhkan dari udara oleh Uni Emirat Arab dan Yordania bahkan menyebabkan korban luka. 

“Sebelas orang cedera ketika palet bantuan jatuh langsung di atas tenda-tenda pengungsi dekat Jalan al-Rasheed,” kata jurnalis Hani Mahmoud.

Israel terus membantah adanya bencana kelaparan, namun kenyataan di lapangan sangat kontras. Smoud Wahdan, seorang ibu pengungsi, mengatakan: “Saya datang sejauh ini, mempertaruhkan nyawa, karena anak-anak saya belum makan selama seminggu. Saya hanya ingin menemukan sepotong roti.”

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore