Kamp tenda bagi warga Palestina yang mengungsi membentang di antara puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di bagian barat Kota Gaza, Sabtu (21/6/2025).
JawaPos.com-Kekejian tentara Israel di Jalur Gaza memasuki babak baru yang mengguncang nurani dunia. Laporan eksklusif dari media ternama Israel, Haaretz, mengungkap bahwa sejumlah tentara Israel mengaku diperintahkan untuk menembaki warga Palestina yang sedang mengantre bantuan makanan, tanpa senjata, tanpa perlawanan, hanya demi bertahan hidup.
Menurut pengakuan para prajurit yang dikutip Haaretz, perintah untuk menggunakan kekuatan mematikan terhadap kerumunan warga sipil datang langsung dari komando atas.
“Kami menembak dengan senapan mesin dari dalam tank dan melempar granat,” ungkap salah satu tentara. “Ada satu kejadian di mana sekelompok warga sipil menjadi sasaran saat mereka mendekat di tengah kabut," kata tentara tersebut dikutip via Al-Jazeera.
Seorang tentara lain menyebut daerah tempatnya bertugas di Gaza sebagai “ladang pembantaian”, dengan korban tewas setiap hari. “Antara satu hingga lima orang dibunuh setiap hari. Dan itu adalah warga sipil.”
Tak kurang dari 549 warga Palestina tewas dan lebih dari 4.000 luka-luka saat mencoba mengakses bantuan pangan dari Gaza Humanitarian Foundation (GHF)—lembaga distribusi bantuan yang didukung Israel dan AS namun menuai kritik luas sejak berdiri pada Mei lalu.
Menghadapi laporan ini, militer Israel buru-buru membantah. Mereka menyatakan tak mengenal adanya penembakan disengaja terhadap warga sipil. Tapi tekanan meningkat.
Jaksa Militer Israel kini telah memerintahkan penyelidikan formal atas dugaan kejahatan perang dalam penyaluran bantuan.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menyebut laporan tersebut sebagai 'fitnah berdarah' menyalahkan musuh Hamas yang menurut mereka beroperasi dari tengah-tengah warga sipil.
Namun bagi jurnalis investigasi Haaretz, Nir Hasson, apa yang terjadi bukan sekadar efek samping dari perang kota. Ia menyebut metode ini sebagai pengendalian massa lewat tembakan.
“Mereka tahu warga itu tidak bersenjata. Tapi mereka tetap menembak. Tujuannya hanya agar orang-orang itu lari dari satu titik ke titik lain.”
Lebih ironis lagi, kata Hasson, sebagian besar tentara Israel justru percaya bahwa perang ini adil, meski mulai terlihat retakan kecil dalam keyakinan itu.
Laporan ini menambah panjang daftar dugaan kekejaman yang dilakukan Israel di Gaza. Dan jika benar terbukti ada perintah sistematis untuk menarget warga sipil, maka dunia sedang menyaksikan bukan sekadar perang, tapi pembantaian yang diperintah dari atas. (*)

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
