Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, Taku Eto (Dok. Issei Kato/Reuters)
JawaPos.com - Menteri Pertanian Jepang, Taku Eto, menuai berbagai kritik atas pernyataannya yang dianggap tidak peka di tengah lonjakan harga beras yang mencapai dua kali lipat dalam setahun terakhir.
"Saya tidak pernah membeli beras. Para pendukung saya memberi begitu banyak beras sehingga di rumah saya punya cukup beras untuk dijual," kata Eto dalam sebuah acara penggalangan dana Partai Demokrat Liberal pada Minggu (18/5), dikutip dari The Japan Times.
Pernyataan ini, yang kemudian diberitakan oleh koran lokal Saga Shimbun, memicu kemarahan warganet Jepang di media sosial. Beberapa pihak juga menilai pernyataan itu menyinggung petani.
Hal ini diperparah dengan fakta bahwa harga beras terus meroket, meskipun pemerintah telah menambah pasokan sebesar 310 ribu metrik ton.
Berdasarkan laporan The Japan Times, harga rata-rata sekarung beras dengan berat 5 kilogram yang dijual di supermarket mencapai ¥4.214 ($29/Rp478.037). Harga ini dua kali lipat dari tahun lalu pada periode yang sama.
Dilansir dari Kyodo News, Perdana Menteri Shigeru Ishiba memanggil Eto ke kantornya dan mendesaknya untuk menarik kembali pernyataan kontroversialnya.
Dalam sebuah konferensi pers pada Senin (19/5) di kantor perdana menteri di Tokyo, Menteri Pertanian Jepang mengakui bahwa ucapannya kurang menghargai konsumen.
"Saya sangat menyesal telah menimbulkan masalah dengan pernyataan yang tidak mencerminkan situasi saya sebenarnya," katanya kepada wartawan seraya menambahkan bahwa keluarganya tetap membeli beras secara teratur.
Perdana Menteri Shigeru Ishiba juga turut menyampaikan permintaan maaf kepada publik dalam konferensi pers itu.
"Saya sendiri harus meminta maaf sedalam-dalamnya sebagai orang yang telah menunjuknya. Tanggung jawab juga ada pada saya," kata Ishiba.
Sementara itu, beberapa anggota parlemen oposisi mempertanyakan kelayakan Eto untuk memimpin kementerian pertanian akibat komentarnya yang "tidak pantas" dan "tidak peka."
Eto pun menyatakan kesiapannya untuk mengundurkan diri jika Ishiba menginginkannya. Akan tetapi, Menteri Pertanian Jepang ini tetap diizinkan untuk melanjutkan tugasnya asalkan menarik pernyataannya dan merenungkan kejadian ini.
Adapun lonjakan harga beras telah membuat warga Jepang kesulitan di tengah meningkatnya harga makanan dan energi. Publik juga terus mengkritik upaya pemerintah yang dianggap gagal menurunkan harga.
Dalam sebuah survei Kyodo News pada akhir pekan, sekitar 87% dari responden menyatakan ketidakpuasan dengan cara pemerintah mengatasi melonjaknya harga beras. Tingkat dukungan publik Jepang untuk Kabinet Ishiba mencapai rekor terendahnya sejak menjabat dari Oktober lalu.
Baca Juga: Tidak Dilirik Jadi Suami Alasan Anak Muda Indonesia dan Jepang Enggan Tekuni Pertanian

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
