Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 12 Mei 2025 | 17.32 WIB

Alih-Alih Kejar Karier, Pengangguran Gen Z di Tiongkok dengan Bangga Sebut Diri Mereka Sebagai 'Rat People'

Seorang perempuan rebahan seharian sambil menatap layar ponsel, mencerminkan gaya hidup rat people yang tengah menjadi tren di kalangan Gen Z akibat kelelahan dan tekanan hidup. (Dok. istockphoto.com) - Image

Seorang perempuan rebahan seharian sambil menatap layar ponsel, mencerminkan gaya hidup rat people yang tengah menjadi tren di kalangan Gen Z akibat kelelahan dan tekanan hidup. (Dok. istockphoto.com)

JawaPos.com – Baru-baru ini, muncul fenomena baru yang menjadi sorotan masyarakat Tiongkok, yaitu maraknya penggunaan istilah "rat people" atau "manusia tikus" di tengah melonjaknya angka pengangguran di kalangan para Gen Z Tiongkok. Penggunaan istilah tersebut bukan hanya sekadar digunakan sebagai bahan candaan di internet, melainkan sebuah bentuk protes mereka terhadap tekanan hidup, kelelahan mental, dan ketidakpastian masa depan yang dihadapi oleh para generasi muda sekarang.

Dilansir dari Fortune.com pada Minggu (11/5), fenomena "rat people" menggambarkan gaya hidup kaum muda yang memilih untuk hidup secara pasif (tidak mandi, tidak keluar rumah, dan menghabiskan hari dengan rebahan, doom scrolling, serta memesan makanan online). Mereka menolak keras terhadap hustle culture yang turun-temurun diwariskan dari generasi-generasi sebelumnya.

Salah satu sosok yang menjadi ikon gerakan ini merupakan pengguna Douyin dengan akun @jiawensishi. Dalam salah satu videonya, ia memperlihatkan rutinitas sebagai "rat people" (bangun siang, menatap layar ponsel hingga sore, lalu kembali tidur sebelum malam tiba). Anehnya, gaya hidup ini justru mendapat sambutan hangat dan inspiratif bagi banyak pengikutnya.

"Itu mah masih terlalu energik," tulis salah satu komentar.

"Aku malah nggak duduk di sofa, cuma pindah dari tempat tidur ke kamar mandi terus makan, terus rebahan lagi," lanjutnya.

Sebenarnya fenomena yang seperti ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya, pada 2021, pernah muncul tren "fying flat" sebagai penolakan terhadap budaya kerja ekstrem "996" (bekerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari seminggu). Dan saat ini, "rat people" merupakan versi yang lebih pasif dan ekstrem dari gerakan tersebut.

Mirisnya, masalah seperti ini ternyata tidak hanya terjadi di Tiongkok. Di Amerika Serikat, lebih dari 4 juta Gen Z dilaporkan menganggur. Sementara itu, pemerintah Tiongkok menyatakan satu dari enam anak muda di negara tersebut tidak memiliki pekerjaan per Februari 2025. Dengan latar belakang ini, munculnya gerakan seperti "rat people" yang mencerminkan perasaan frustasi dan keputusasaan yang dirasakan secara global tidak dapat dipungkiri.

Advita Patel, presiden Chartered Institute of Public Relations, mengatakan bahwa fenomena ini merupakan "protes diam" terhadap pasar kerja yang tidak ramah.

"Ketika seseorang terus-menerus melamar pekerjaan dan hanya menerima penolakan atau diabaikan, hal tersebut dapat sangat merusak kepercayaan diri dan kesehatan mental mereka," ujarnya kepada Fortune.

Namun, para pakar karier mengingatkan bahwa meskipun rehat sejenak bisa menjadi bentuk perlindungan diri, menjadikannya sebagai gaya hidup permanen dapat berdampak negatif untuk jangka panjang. Eloise Skinner, psikoterapis dan penulis buku pengembangan diri, mengatakan bahwa mereka yang menarik diri dari dunia kerja berisiko merasa tertinggal lebih jauh dari rekan-rekan sebayanya di masa depan.

"Gen Z masih berada di awal perjalanan karier, dan mengambil jeda untuk mencari arah hidup sah-sah saja," ujarnya.

"Namun alangkah baiknya jika dapat menggunakan waktu itu untuk bertanya, Apa yang membuatku bersemangat? Masalah apa yang ingin kupecahkan di dunia ini?" lanjutnya.

Skinner juga mengingatkan agar tidak membagikan gaya hidup "rat people" secara publik di media sosial, sebab bisa saja dilihat oleh calon perekrut yang kurang simpatik terhadap sikap pasif semacam itu.

Leona Burton, pendiri komunitas profesional Mums in Business International, menekankan pentingnya memulai dari langkah kecil.

"Tidak perlu langsung tahu tujuan hidup. Cukup ambil satu keputusan positif setiap hari. Entah itu menerima pekerjaan paruh waktu, memulai usaha kecil, atau hanya bangun dan keluar rumah tanpa membawa ponsel, semua langkah-langkah kecil seperti itu tetap berarti," katanya.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore