Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Mei 2025 | 23.04 WIB

Suara dari Kamp Pengungsian Gaza: Perjuangan Ibtisam Ghalia Hidup di Tengah Blokade Israel

Ibtisam Ghalia bersama empat anaknya berjuang hidup di tengah blokade Israel di Gaza (Dok. Enas Tantesh/The Guardian)

JawaPos.com - Setiap hari, Ibtisam Ghalia, seorang mantan perawat Gaza bersama empat anaknya menghitung sisa makanan yang mereka miliki. Dikutip dari kisahnya di The Guardian, ia berusaha bertahan hidup ditengah blokade total yang dilakukan oleh Israel sejak dua bulan lalu.

Akibat blokade Israel, makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan lainnya tak bisa masuk ke wilayah yang porak-poranda ini.

Selama itu pula, persediaan dapur dari wanita 32 tahun itu makin menipis, tak banyak yang tersisa. Hanya sedikit kacang, sebungkus lentil, sedikit garam, beberapa rempah, dan cukup tepung untuk membuat enam roti pipih.

Roti itu dimasak di atas wajan besi yang dipanaskan dengan api dari kayu bekas, plastik limbah, dan kardus. Bahan bakar seadanya karena tak ada lagi gas atau bensin yang bisa digunakan.

Dulu, dia masih bisa mendapatkan bantuan tunai dari LSM dan membeli sayur atau buah dari pasar. Kadang, ada tetangga atau kerabat yang memberinya sebungkus tepung. Namun, semua itu kini makin langka dan mahal.

Gula yang dulunya hanya satu dolar per kilogram, kini melonjak jadi 20 dolar. Tepung berkualitas buruk pun harganya tak terjangkau. Pabrik roti bantuan WFP sudah tutup sejak lama.

Dapur umum yang biasa menyediakan hampir satu juta porsi makanan sehari pun mulai kehabisan pasokan, gudang PBB juga kosong melompong. Sudah berbulan-bulan keluarga Ghalia tak menyentuh daging atau produk susu.

Pada Desember 2023, suaminya, Hamza, tewas akibat serangan drone Israel saat mencari makanan di reruntuhan rumah mereka. Ia bersama paman dan sepupu Ghalia.

"Saya tidak menjerit atau menangis saat menemukan mereka. Saya bersyukur bisa menemukan dan menguburkan mereka," kenang Ghalia.

"Rumah sakit menolak menerima jasadnya karena sudah mulai membusuk dan tak ada kain kafan. Jadi kami membungkus mereka dengan selimut dan menguburkannya sendiri."

Anak-anaknya menangis setiap hari. Dua yang tertua, kini berusia 10 dan 9 tahun, terus merindukan sang ayah.

"Saya bilang kita akan bertemu lagi di surga," kata Ghalia pelan.

Minggu lalu, saudari Ghalia tertembak di kaki saat sedang memasak di samping tenda. Peluru nyasar itu hampir mengenai anak-anak.

Anak sulungnya, Hossam yang baru berusia 10 tahun, kini rutin mencari kayu bakar ke area kosong di sekitar kamp. Tanpa gas atau bensin, hanya itu pilihan mereka.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore