
Konjen Hongkong Yul Edison foto bersama sejumlah wartawan dari Indonesia saat berkunjung ke Hongkong akhir Juni 2024. (Dok. Binus)
JawaPos.com - Hongkong merupakan salah satu negara bagian dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Meski menjadi bagian Tiongkok, Hongkong mendapat otonomi khusus sendiri dari Pemerintah Tiongkok untuk segala hal, kecuali untuk pertahanan dan pemerintahan. Sehingga, Hongkong memiliki mata uang dan bendera sendiri. Begitu juga sistem ekonominya kapitalis dan sangat berbeda dengan Tiongkok.
Selama ini Hongkong menjadi salah satu tujuan Warga Negara Indonesia (WNI) diaspora untuk menetap. Menurut data Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk Hongkong dan Makau, terdapat 200 ribu WNI yang tinggal di Hongkong. Sebanyak 165 ribu di antaranya merupakan pekerja migran.
Konjen RI untuk Hongkong dan Makau Yul Edison mengatakan, rata WNI yang tinggal di Hongkong berprofesi sebagai asisten rumah tangga (ART). Mereka umumnya berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Meski berprofesi sebagai ART, namun WNI itu mendapatkan penghasilan yang cukup lebih baik, meskipun itu jauh di bawah upah minimum regional (UMR) Hongkong.
Para ART setiap bulannya itu mendapat gaji bersih sekitar HKD 5.000. Pendapatan itu ditambah dengan uang makan HKD 1.200. Total HKD 6.200. Jika dikonversi ke rupiah dengan kurs HKD 1 sama dengan Rp 2 ribu. Maka, pendapatan bersih itu ada Rp 10 juta per bulan. "Uang itu bersih. Kalau uang makan kadang dalam bentuk uang, ada pula dalam bentuk yang diberikan oleh majikannya," ungkap Yul Edison saat ditemui JawaPos.com di Hongkong akhir Juni lalu.
Menurut Yul Edison, upah yang diterima masih rendah dengan upah pekerja formal di Hongkong. Namun, karena ART itu sudah mendapat tempat tinggal dan makan dari majikannya, maka mereka bisa menabung dan berkirim ke kampung halaman. "Ada yang bisa bangun rumah di kampung halaman dengan gaji sebanyak itu," ujar Konjen berdarah Minang itu.
Konjen yang pernah bertugas di Moskow itu mengatakan, isu perburuhan sangat mendapat pengawalan dari NGO di Hongkong. Sehingga para WNI yang menjadi PMI di Hongkong mendapatkan hak yang layak bekerja di Hongkong. Dalam sepekan mereka berhak mendapat libur sehari. Nah, biasanya libur itu diambil para hari Minggu. Umumnya para WNI di Hongkong berkumpul di Victoria Park. Bahkan taman itu berasa di Indonesia, karena saking banyaknya WNI ditemukan di sana.
Setiap ada isu-isu buruh di Hongkong, maka NGO setempat akan kritis. Mereka sangat membela hak-hak para pekerja. Baik pekerja domestik maupun diaspora.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
