Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 22 Mei 2021 | 18.16 WIB

Kena Covid-19, Profesor India Meninggal, Sempat Mohon ICU di Medsos

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Situasi darurat Covid-19 di India kembali memakan korban jiwa. Kali ini dialami seorang perempuan bergelar Asisten Profesor, Nabila Sadiq, 38. Dia meninggal setelah memposting permohonan putus asa untuk mendapatkan tempat tidur ICU di media sosial Twitter.

Tragisnya, kematiannya hanya 10 hari setelah ibunya, Nuzhat, 76, meninggal karena komplikasi terkait penyakit tersebut. Ayahnya dirawat di rumah sakit karena Covid-19 tetapi akhirnya dipulangkan dan menjalani karantina rumah.

Pada hari-hari terakhirnya, ahli studi gender itu memposting di Twitter dengan putus asa untuk mendapatkan tempat tidur ICU. Dia meminta orang-orang untuk berdoa untuk dirinya dan orang tuanya. Dia mengungkapkan ketakutannya bahwa tidak ada yang akan tetap hidup di New Delhi.

Sejak April 2021, dia mulai berbagi kicauan jengkel tentang krisis Covid-19 di India. Dia menulis pada 24 April bahwa mirisnya banyak pasien terlalu muda dan orang-orang terkenal meninggal karena kekurangan oksigen.

"Setiap hari saya terbangun dengan berita kematian. Terlalu banyak untuk kondisi mental. Kapan ini akan berakhir," katanya. Pada 1 Mei 2021, dia menulis lagi. "Doakan saya dan orang tua saya," lanjutnya.

Dia kemudian memohon orang-orang untuk membantunya menemukan tempat tidur di unit perawatan intensif, segera setelah rumah sakit India terpaksa menolak pasien di tengah lonjakan kasus Covid-19. Dia menulis lagi pada 4 Mei 2021.

"Ada petunjuk di mana tempat tidur ICU? Untuk diriku sendiri," katanya dengan miris. Tweet terakhirnya diposting pada hari yang sama, hanya berbunyi singkat. "Oke," tulisnya.

Itu tweet terakhirnya. Dia ditolak oleh tiga rumah sakit. Paru-paru Nabila sudah terlalu rusak dan dia meninggal pada Senin (17/5) malam seperti laporan NDTV.

Saat berada di Rumah Sakit Fortis di Faridabad, Nabila juga diduga tidak diberi tahu kapan ibunya, Nuzhat, yang juga berjuang melawan virus Korona, meninggal pada 7 Mei. Murid-muridnya membantu melaksanakan upacara terakhir ibunya pada 7 Mei. Sekitar waktu yang sama, kesehatan Nabila mulai memburuk dengan cepat.

Waqar, seorang teman dan mahasiswa dari universitasnya mengatakan, menelepon setiap rumah sakit di Delhi untuk memberinya tempat tidur dan oksigen. Namun, kadar oksigennya turun menjadi 32 persen.

"Setelah CT scan, dokter mengatakan paru-parunya rusak. Saya menerima ratusan telepon setiap hari dari kolega, kerabat, dan teman-temannya yang menanyakan kesehatannya. Kami tidak tahu harus berbuat apa," kata mahasiswanya.

“Setiap mahasiswa yang sedang menempuh studi gender ingin meraih gelar PhD di bawah bimbingannya. Dia membantu begitu banyak orang selama pandemi," kata mahasiswanya itu.

The Indian Express melaporkan bahwa Nabila mengatakan dia tidak diberi obat-obatan dan perawatan. Dia meninggal sekitar jam 11 malam pada Senin (17/5). Ayah Nabila Sadique, 80, seorang pensiunan profesor yang mengajar di Universitas Muslim Aligarh, ikhlas dengan kepergian anaknya selama-lamanya.

"Saya pikir dia lebih mencintai ibunya dan pergi bersamanya, meninggalkan saya sendirian di sini," tutur sang ayah.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore