
Photo
JawaPos.com - Situasi darurat Covid-19 di India kembali memakan korban jiwa. Kali ini dialami seorang perempuan bergelar Asisten Profesor, Nabila Sadiq, 38. Dia meninggal setelah memposting permohonan putus asa untuk mendapatkan tempat tidur ICU di media sosial Twitter.
Tragisnya, kematiannya hanya 10 hari setelah ibunya, Nuzhat, 76, meninggal karena komplikasi terkait penyakit tersebut. Ayahnya dirawat di rumah sakit karena Covid-19 tetapi akhirnya dipulangkan dan menjalani karantina rumah.
Pada hari-hari terakhirnya, ahli studi gender itu memposting di Twitter dengan putus asa untuk mendapatkan tempat tidur ICU. Dia meminta orang-orang untuk berdoa untuk dirinya dan orang tuanya. Dia mengungkapkan ketakutannya bahwa tidak ada yang akan tetap hidup di New Delhi.
Sejak April 2021, dia mulai berbagi kicauan jengkel tentang krisis Covid-19 di India. Dia menulis pada 24 April bahwa mirisnya banyak pasien terlalu muda dan orang-orang terkenal meninggal karena kekurangan oksigen.
"Setiap hari saya terbangun dengan berita kematian. Terlalu banyak untuk kondisi mental. Kapan ini akan berakhir," katanya. Pada 1 Mei 2021, dia menulis lagi. "Doakan saya dan orang tua saya," lanjutnya.
Dia kemudian memohon orang-orang untuk membantunya menemukan tempat tidur di unit perawatan intensif, segera setelah rumah sakit India terpaksa menolak pasien di tengah lonjakan kasus Covid-19. Dia menulis lagi pada 4 Mei 2021.
"Ada petunjuk di mana tempat tidur ICU? Untuk diriku sendiri," katanya dengan miris. Tweet terakhirnya diposting pada hari yang sama, hanya berbunyi singkat. "Oke," tulisnya.
Itu tweet terakhirnya. Dia ditolak oleh tiga rumah sakit. Paru-paru Nabila sudah terlalu rusak dan dia meninggal pada Senin (17/5) malam seperti laporan NDTV.
Saat berada di Rumah Sakit Fortis di Faridabad, Nabila juga diduga tidak diberi tahu kapan ibunya, Nuzhat, yang juga berjuang melawan virus Korona, meninggal pada 7 Mei. Murid-muridnya membantu melaksanakan upacara terakhir ibunya pada 7 Mei. Sekitar waktu yang sama, kesehatan Nabila mulai memburuk dengan cepat.
Waqar, seorang teman dan mahasiswa dari universitasnya mengatakan, menelepon setiap rumah sakit di Delhi untuk memberinya tempat tidur dan oksigen. Namun, kadar oksigennya turun menjadi 32 persen.
"Setelah CT scan, dokter mengatakan paru-parunya rusak. Saya menerima ratusan telepon setiap hari dari kolega, kerabat, dan teman-temannya yang menanyakan kesehatannya. Kami tidak tahu harus berbuat apa," kata mahasiswanya.
“Setiap mahasiswa yang sedang menempuh studi gender ingin meraih gelar PhD di bawah bimbingannya. Dia membantu begitu banyak orang selama pandemi," kata mahasiswanya itu.
The Indian Express melaporkan bahwa Nabila mengatakan dia tidak diberi obat-obatan dan perawatan. Dia meninggal sekitar jam 11 malam pada Senin (17/5). Ayah Nabila Sadique, 80, seorang pensiunan profesor yang mengajar di Universitas Muslim Aligarh, ikhlas dengan kepergian anaknya selama-lamanya.
"Saya pikir dia lebih mencintai ibunya dan pergi bersamanya, meninggalkan saya sendirian di sini," tutur sang ayah.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
