Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 November 2018 | 13.10 WIB

Perjalanan Menegangkan di Musim Gugur

Musim gugur adalah musim semi yang kedua ketika tiap dedaunan ibarat bunga yang bermekaran, kata Albert Camus, seorang penulis Perancis - Image

Musim gugur adalah musim semi yang kedua ketika tiap dedaunan ibarat bunga yang bermekaran, kata Albert Camus, seorang penulis Perancis

JawaPos.com - Tiba-tiba suara bising terdengar, suara sirine yang kalut itu semakin dekat dan ramai. Empat mobil polisi sudah tiba mengerubuti bus. Kisah ini diceritakan oleh Annisa Hidayat.


Tahun ini adalah tahun kedua saya sebagai mahasiswa di Hamburg, Jerman. Jika selama musim semi saya selalu dibangunkan oleh kicau burung-burung, musim panas oleh cahaya matahari yang menembus kaca jendela kamar, maka di musim gugur ini saya dibangunkan oleh suara angin yang memukul pepohonan.


Sungguh kota utara yang kelabu. Namun di antara kekelabuan dan tubuh-tubuh yang menggigil, tiba-tiba setiap kenangan menjadi begitu hangat. Ketika musim gugur datang, saya kembali membuka album-album dan mengingat bagaimana warna-warna jalan dari balik jendela sebuah bus. Musim gugur adalah musim semi yang kedua ketika tiap dedaunan ibarat bunga yang bermekaran, kata Albert Camus, seorang penulis Perancis.


Awal musim gugur, kampus masih libur, semester break. Bagi saya liburan adalah mengunjungi teman yang berada di luar Jerman untuk silaturrahmi. Seorang teman yang baik bernama Okta mengajak saya mengunjungi Wageningen, Belanda. Sehari setelah dia menyelesaikan ujian thesisnya, besoknya kami memutuskan ke Wageningen.


"Merdeka", itu yang dirasakan Okta dan menghadiahkan dirinya dengan sebuah trip menggunakan bus ke kota kecil itu. Kami memutuskan menggunakan bus daripada kereta, lebih tepatnya Okta lah yang lebih suka naik bus. Pemandangannya sangat indah dari balik jendela bus, ucapnya. Dari Hamburg ke Wageningen jauhnya seperti dari Jakarta ke Jogja, dan percayalah harga busnya lebih murah, kurang dari 30 Euro pulang pergi.


Hari itu memang terasa berbeda, Okta hampir ketinggalan bus karena paspornya ketinggalan. Ia telat lima menit. Saya katakan kalau teman saya belum sampai karena passportnya ketinggalan, supirnya sangat baik dan mengatakan tidak masalah, kami akan menunggunya. "Kalau dalam lima menit saya belum sampai, jalan saja duluan, nanti saya beli tiket lain," ucap Okta melalui pesan whatsapp. Saya sampai berpikir, apakah saya akan melakukan perjalanan ini sendirian, perjalanan pertama ke luar Jerman untuk pertama kali dalam bus sendirian saja.


Namun syukurlah, bangku disamping saya tidak jadi kosong, karena kami memang ditakdirkan untuk melewati perjalanan ini bersama, dan sepanjang perjalanan kami banyak berbicara tentang kota-kota imajiner (Italo Calvino 1972).


Kami memang pengagum kota-kota tua yang mungkin saja menyimpan rahasia mesin waktu. Saya menemukan teman seperjalanan sesama alien, kami percaya bahwa patung Mark Twain di kota tua Lueneburg akan hidup lewat jam 12 malam, sang maesto penulis cerita anak akan bermain-main tengah malam di kota abad ke-16 Jerman itu.


Penangkapan Seorang Kriminal, Bus Dihentikan di Ladang Gandum


Sudah sampai bus berjalan sekitar tiga jam memasuki Hannover, kota ini akan menjadi tempat transit pertama kami. Namun sebelum sampai stasiun Hannover, bus kami melewati sebuah jalan panjang yang sepi, diapit oleh ladang gandum yang luas dengan beberapa jajaran kincir angin yang memukau. Baru pertama kali saya melihatnya dari dekat kincir-kincir angin berwarna putih yang megah, berdiri menjangkau langit luas. Sebuah tempat yang amat lapang untuk jadi tempat pemberhentian bus, tidak ada rest area, tidak ada satupun kendaraan melintas.


Tiba-tiba suara bising terdengar, suara sirine yang kalut itu semakin dekat dan ramai. Empat mobil polisi sudah tiba mengerubuti bus. Situasi penumpang yang mulai panik dan beburu-buru turun membuat naluri kewaspadaan muncul otomatis mengikuti orang-orang yang turun dengan ketakutan.


Di awal musim gugur, angin di ladang gandum yang lapang cukup dingin memukul lengan, beberapa orang-orang yang turun karena panik sudah tidak memikirkan hal lain lagi kecuali rasa aman, mereka para penumpang itu beberapa turun tanpa jaket tebal dan sepatu, hanya baju tipis dan kaos kaki terlihat menapak diatas rumput-rumput basah.


Ya, saya masih mengingat selintas seorang pemuda pirang bergegas turun dengan kaos oblong lengan pendek warna abu dan tanpa alas kaki. Dalam bus sudah ada pemanas ruangan, jadi setiap penumpang bisa melepas jaket, memakai baju tipis dan melepas sepatu untuk posisi nyaman karena perjalanan panjang.


Saya menanyakan ke penumpang apa yang terjadi, tak ada juga yang tahu, yang jelas beberapa polisi sudah berada dalam bus yang sudah kosong itu dengan pistol mereka yang sudah siaga di tangan. Kami para penumpang hanya melihat dari luar dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Kami diminta menjauh dari bus. Saya bisa melihat seorang pria kulit hitam, rambut panjang sebahu, pria itu berusaha melawan namun seorang polisi wanita dengan sigap membekuknya dan dua orang polisi pria sudah memberengus kedua tangannya.


Dalam keadaan terbekuk pria itu masih melawan berusaha melepaskan diri sampai akhirnya ia berhasil dikeluarkan dalam bus dan dilumpuhkan kakinya hingga jatuh telungkup ke rumput dengan pelan. Sebuah usaha pelumpuhan yang hati-hati seakan menjaga agar tidak ada yang terluka. Sebelumnya, sang kriminal kulit hitam itu duduk di kursi paling belakang, di samping dan di depannya keseluruhan penumpangnya adalah lansia. Ketika beberapa polisi masuk bus dan langsung menuju ke belakang, para penumpang lansia itu masih belum paham apa yang terjadi hingga semua penumpang turun. Situasi yang cukup membahayakan keselamatan.

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore