
Ini bukan skenario film, tapi kejadian nyata yang aku alami tanggal 28 Maret 2016 sekitar jam10 pagi. Ini pengalaman seorang Au-Pair di salah satu kota kecil di Belgia
Seorang suster ketua yayasan jelasin aku, mereka melatih anak-anak biar bisa mandiri. Dulu aku ngga paham apa yang suster maksud, koq bisa? Dan bagaimana caranya? Setelah kenal Carlotta, aku jadi paham dan optimis bahwa anak berkebutuhan khusus juga punya masa depan dan layak dihargai.
Aku termasuk beruntung menjadi Au-Pair di keluarga ini, dapat les intensiv gratis di VHS (sekolah umum), dapat uang belanja per minggu lumayanlah buat beli kangkung, indomie dan kripik pisang di toko Asia dekat rumah, uang extra dari bersih-bersih tangga rumah setiap minggu dan libur flexibel jadi bisa jalan- jalan.
Lumayanlah bocah ndeso ini bisa tau bau ganja di Amsterdam, ngerasain Waffeln di Brüssel, mampir di Tavullia kampung nya Valentino Rossi (maklum saya Fans si om Rossi sejak masih imut dan lugu), keliling sampai gempor di Museum Vatikan, shopping cantik di San Marino, jalan santai di jembatan terkenal Kota Praha yang dibuat lokasi shooting film James Bond, berendam manjah di kolam air panas di Budapest dan berjemur syahduh di pinggir pantai di kota Lisabon.
Belajar hidup di Belgia
Itu adalah masa Indah di Münster. Setelah selesai Au-Pair, aku coba cari lowongan BFD (Bundesfreiwilligendienst - pekerja sosial sukarela) tapi sayang aku belum beruntung, jadi aku coba peruntungan Au-Pair di negara tetangga, Belgia, di daerah yang berbahasa Jerman. Jadi aku masih bisa belajar Jerman lagi.
Tapi Tuhan menunjukkan jalan lain. Aku cuma dua bulan disana. Di Belgia aku belajar hidup, lewat apa yang terjadi antara aku dan host familieku disana. Berjuang bagaimana tetap hidup, walaupun kadang tidak dapat makan.
Latihan kuat karena sering nangis terlalu banyak kerjaan, latihan sabar karena tidak dihargai, latihan bersyukur karena orangtua dan teman-teman yang selalu mensupport, dan latihan berserah kepada Tuhan ketika hampir putus asa.
Please teman-teman carilah host familie yang baik, cari info sebanyak-banyaknya dan jangan tergesa-gesa. Karena kalau salah pilih bisa berakibat fatal menjadi luntang-lantung di negara orang tanpa sanak familie. Itu bukan hal yang mudah. Biar cukup saya saja yang alami itu.
Aku beruntung bisa bertemu Pak Ifan dari KBRI Brüssel dan akhirnya selamat dan bisa melanjutkan hidup di Jerman. Walaupun awalnya beliau menyarankan untuk pulang ke Indonesia. Bahkan temanku baik orang Ukraina bilang saya gila, katanya kalau dia jadi jadi aku, sudah pulang dari awal ada masalah sama host familie daripada lontang-lantung kere, tidak punya teman ataupun saudara di Belgia.
Tapi akhirnya aku tetap kekeh balik ke Jerman sehingga bisa ikut program BFD sampai akhirnya mendapat pendidikan kejuruan. Itu semua setelah lari dari host familie dengan tas berisi laptop, dokumen penting, uang terakhirku 200 Euro, alkitabku dan hanya baju yang melekat ditubuhku. Aku bukan manusia religius, aku hanya manusia yang menjadikan Tuhan sumber kekuatanku.
Ketika masa-masa sulitku, aku menemukan ayat dari Roma 12: 12, "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa." Ini penganganku dan aku percaya Tuhan menyediakan apa yang kita perlukan. Sehingga banyak kejaiban muncul, masih hidup antara Jerman dan Belgia, antara Nürnberg, Münster dan Brüssel. Teman yang tanpa aku sangka boleh menempati apartemennya selama dia liburan di Indonesia.
Terimakasih mbakyu Wira dan Farrah. Dan terimakasih banyak Leyla dan Eugen yang menampungku di Nürnberg sehingga aku mendapat kontrak untuk BFD di Altenheim (rumah jompo). Teman baikku Alexander, walaupun sedang tidak di Jerman, tetap mengurus tiketku pulang pergi Indonesia-Jerman. Aku tahu dia juga mempunyai banyak kesulitan tapi dari ketebatasannya dia tetap membantuku.
Sahabat menaruh kasihnya setiap waktu, begitulah kata orang bijak. Orang KSHG ( ikatan mahsiswa Katholik) Münster terus mensupport dan membantuku sehingga aku bisa kembali ke Jerman. Dan terlebih orang tua yang selalu mensupport dan tidak pernah meragukan keputusanku.
Begitu banyak keberuntunganku yang tidak bisa kusebutkan satu demi satu. Karena masalah dokumen, akhirnya aku apply visa BFD di Kedubes Jerman di Jakarta.
Akhirnya aku mendapat program BFD di Fürth, kota kecil yang bersebelahan dengan Nürnberg. Tuhan mengganti 450€ uang saku yang tidak dibayar oleh Host Familie di Belgia, dengan begitu indah, yaitu tempat BFD yang nyaman, gaji yang bagus dan apartemen yang direkomendasikan majikanku, padahal aku sudah berusaha mencari selama 3 bulan tanpa hasil.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
