
Kapal penumpang dan kargo sepanjang 60 meter dan bobot 500 ton itu ikut terhempas oleh ombak raksasa ke daratan dan mendarat di antara rumah penduduk. Di sanalah kapal itu bernaung hingga kini
JawaPos.com - KM Sabuk Nusantara 39 hingga kini masih bernaung di atas pelabuhan Pantoloan di Wani, Palu, usai dihempas gelombang tsunami. Kru yang bertugas mengisahkan pengalaman mereka menjadi saksi hidup fenomena alam tersebut. Charles Marlan merasakan sensasi aneh, seakan kapal yang dia tumpangi sedang terseret kembali ke arah laut, saat sedang berlabuh di Wani, di timur Palu. Ia tidak menyangka perasaan tersebut adalah peringatan terakhir kemunculan gelombang tsunami.
"Sekujur kapal bergetar," kata pria yang bekerja sebagai tenaga mekanik untuk KM Sabuk Nusantara 39 itu. "Semua benda di lemari mulai berjatuhan," imbuhnya.
Kapal penumpang dan kargo sepanjang 60 meter dan bobot 500 ton itu ikut terhempas oleh ombak raksasa ke daratan dan mendarat di antara rumah penduduk. Di sanalah kapal itu bernaung hingga kini.
Marlan dan pekerja kapal yang lain tahu nasib sedang berubah arah ketika air mulai surut dan menyeret kapal ke arah laut. Beruntung para anak buah kapal berpikir cepat dan melengkapi diri dengan jaket pelampung sebelum ombak setinggi lima meter menghantam badan kapal.
"Saya bisa mendengar ombak datang," kisahnya. "Ombak membawa kami sangat cepat dan sebelum bisa apa-apa, kami sudah berada di atas daratan." Tidak seorangpun penumpang atau pegawai KM Sabuk Nusantara 39 yang mengalami luka-luka.
Kini Marlan dan 20 ABK yang lain terdampar di Palu, sembari menunggu instruksi dari kantor pusat PT. Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) di Jakarta. Mereka bertahan hidup dari bantuan kemanusiaan dan tak jarang, ikut bercengkrama dengan pemuda lokal yang naik ke atas kapal.
Marlan bersyukur kapalnya tidak menyebabkan korban jiwa ketika terseret ke daratan. "Yang penting kami hidup. Itu saja sudah syukur."
Lantaran tidak banyak mengalami kerusakan, pelabuhan Pantoloan di Wani kini menjadi tumpuan utama pengiriman bantuan kemanusiaan dan alat berat lewat jalur air. Kran barang yang bisa mempercepat pemindahan barang memang rusak berat, namun Kementerian Perhubungan meyakini pelabuhan masih bisa digunakan untuk mengangkut penumpang atau memindahkan alat berat.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
