
Lampu tradisional bernama Fenus yang menghiasi gang-gang di Kota Kairo
JawaPos.com - Tahun ini merupakan Ramadan ketiga saya di Negeri Para Nabi, Mesir. Saya tinggal di Kairo, tempat menempuh studi di Universitas Al-Azhar. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim, saya bersyukur bisa menjalani Ramadan di jazirah Arab ini. Suasana-suasana baru selalu saya dapatkan sejak puasa pertama di Mesir.
Mulai dari bagaimana orang-orang Mesir menyambut bulan suci, bagaimana dermawannya warga kepada mahasiswa asing, sampai lama puasa yang lebih panjang dua jam dibanding Indonesia. Selain itu, temperatur udara musim panas yang mencapai suhu 44 derajat juga membawa tantangan tersendiri.
Pengalaman lain yang menarik adalah, tarawih di masjid Al-Azhar yang durasinya mencapai 2 jam penuh. Hal-hal itu yang membuat saya bersemangat untuk puasa di Mesir. Sebab, selalu memberikan kesan.
Menyambut Ramadhan ala Orang Mesir
Ketika bulan suci tiba, sudah dipastikan umat Muslim di berbagai penjuru dunia menyambutnya dengan gembira. Di kampung saya, ada tradisi munggahan. Kami menyembelih ayam jantan peliharaan atau membeli daging sapi untuk kemudian dijadikan dendeng untuk menu khusus sahur.
Di Kairo juga ada tradisi yang cukup unik. Saat Ramadan tiba, warga akan berbondong-bondong ke pasar untuk membeli lampu tradisonal yang kami sebut Fanus. Lampu itu kemudian digantung sebagai hiasan di rumah-rumah. Termasuk hiasan di gang-gang tempat tinggal yang biasa saya dan kawan-kawan lewati.
Sebuah pemandangan khas yang menjadikan suasana Ramadan menjadi terasa puitis. Tradisi ini sudah berlangsung lama sejak era Dinasti Fatimiyah. Kerajaan yang pada masanya berjasa atas pendirian Al-Azhar tempat studi saya kini.
Maidah Rahman, Kasih Sayang Warga Mesir kepada Orang yang Puasa
Suatu hari saat saya hendak berbuka puasa, satu dari kawan saya tiba-tiba melempar gosip untuk membicarakan orang Mesir. Perbincangan itu lahir secara spontan setelah melihat lelaki paruh baya berpenampilan sederhana yang berdiri di tengah jalan. Dia memberhentikan setiap pejalan kaki.
Paman -kami biasa memanggil ‘ammu atau paman kepada orang Mesir- tersebut ternyata sedang membagikan kurma untuk takjil berbuka puasa. “Keren ya orang Mesir itu. Orang yang berprofesi sebagai pedagang asongan, saat Ramadan tiba berubah menjadi dermawan. Berlomba-lomba berihsan kepada orang yang puasa.”
Ya, kira-kira begitulah potret warga di sini kepada kami saat Ramadan. Pada saat berbuka puasa, kebanyakan dari kami mahasiswa Indonesia yang kini berjumlah sekitar 6 ribu orang akan mampir di Maidah Rahman. Itu adalah tempat yang menghidangkan menu berbuka gratis dari para dermawan Mesir. Menu makanan ringan atau berat.
Aktivitas Selama Ramadhan dan Ujian Kampus di Bumi Kinanah
Awalnya saya belum terbiasa puasa di musim panas dengan temperatur udara mencapai 44 derajat. Di Indonesia saja, saat suhu mencapai 37 derajat, terasa sangat panas. Apalagi, durasi puasa di sini dua jam lebih lama dari Indonesia. Makin berat karena ujian semester genap di kampus beririsan antara bulan Ramadan dengan bulan sebelumnya.
Namun, alhamdulillah semua itu tidak menyurutkan saya untuk menyambut dan mengisi bulan suci ini dengan sebaik mungkin. Hal itu berkat budaya apik mahasiswa Indonesia di sini sejak jaman dulu. Yaitu, budaya ngerem rotasi bumi saat ujian tiba. “Saat ujian tiba, maka berhentilah sejenak rotasi dunia ini”.
Bingung apa maksudnya? Sama dengan tahun pertama saya. Saat itu, saya masih duduk di kelas Bahasa. Belum merasakan temperatur ujian di Al-Azhar secara penuh. Benar saja, ketika saya sudah masuk kuliah dan ujian semester lambat laun saya berpindah keyakinan.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
