
Ledakan terjadi di Masjid Ar-Raudhah, Jumat (24/11)
PERMAINAN isu kemanusiaan dan keagamaan memang memiliki sensitivitas yang tinggi. Bahkan dalam perjalanannya, isu-isu yang menyangkut hal-hal itu merupakan pemicu tercepat bangkitnya syahwat amarah dan murka. Lihatlah di Rohingnya, dalam hitungan detik, ketika isu SARA dibenturkan dengan idealisme agama. Kemudian membesar ruang lingkupnya menjadi praktek diskriminasi, rasisme, hingga pembantaian nyawa.
Di Mesir, dua agama besarnya yakni Islam dan Kristen Ortodoks hidup rukun dalam perdamaian dan saling menghormati sejak zaman khalifah Umar bin Khattab. Kita semua tahu, ketika Gubernur Mesir pertama pada zaman Khalifah, Amru bin Ash, ditegur secara tegas oleh khalifah Umar karena telah berbuat tidak adil kepada seorang wanita tua Yahudi.
Bahkan pada era ini, Grand Syeikh Al-Azhar dan juga pemuka pendeta Kristen Ortodoks selalu memiliki waktu setiap bulannya untuk saling bertatap muka, menegakkan toleransi, membahas keragaman dan kemajemukan di Mesir.
Tapi kemarin, tepat di hari Jumat (24/11), kejadian tragis terjadi di Masjid Al-Raudhah di Bir al-Abed, yang berada di Kota El-Arish, kota terbesar di Provinsi Sinai Utara. Kejadian itu sangat mencoreng wajah toleransi Mesir.
Sebagai perantau ilmu dari tanah air, awalnya saya tidak berani berkomentar banyak. Namun pernyataan teman saya asli Mesir, Musthofa Zaki, cukup membutakan mata saya. Menurutnya, daerah Sinai memang kawasan yang penuh dengan konflik pertikaiaan senjata.
Mereka membunuh muslim, supaya muslim kira Kristen yang membunuh. Apalagi mereka juga membunuh Kristen supaya mengira orang muslim yang membunuh. Ini Fitnah. Ini upaya mengadu domba.
Memang, dalam tragedi yang memakan korban ratusan orang tewas dan 120 orang luka-luka itu menimbulkan banyak praduga dan prasangka. Terutama, soal kelompok yang bertanggung jawab atas kejadian keji ini.
Pernyataan Musthofa rupanya sejalan dengan Pimpinan Tertinggi Al-Azhar Grand Syeikh Prof Dr Ahmad Thoyib. Dia menegaskan insiden tersebut tidak mencerminkan nilai agama, akhlak, dan kekuatan dari mereka yang melakukannya. Namun, justru menunjukkan penyimpangan terhadap agama, dekadensi, keputusasaan dan kekalahan internal dalam jiwa para pelakunya.
’’Apa yang terjadi hari ini menegaskan apa yang telah kami katakan dan kami sampaikan sekali lagi pada hari ini bahwa terorisme hitam dan brutal ini utamanya menargetkan Mesir, masyarakatnya, masjid-masjid, gereja-gereja, tentara pemberani, dan pasukan keamanannya yang heroik; namun Mesir yang terjaga dan tak pernah takluk ini, mampu—berkat pertolongan Allah—mengalahkan antek-antek terorisme dan memberantas kelompok-kelompok bodoh, para penyebar paham takfiriy dan “kelelawar kegelapan” (para perusak),’’ katanya.
Bila ditelaah lebih lanjut, kutipan Pidato Grand Syeikh itu menunjukkan bahwa akar utama penyebab kejadian adalah ideologi ekstremis yang sudah membabi buta dan hangusnya perasaan toleransi. Jika kita kaji lebih dalam ke arah permasalahan, boleh kiranya jika dihubungkan dengan asas-asas ideologi pemikiran kelompok-kelompok radikal ekstremis.
Sebab, pemikiran utama yang menjadi landasan semua konsep kelompok-kelompok radikal adalah konsep Hakimiah. Konsep ini merupakan akar yang menjadi dasar seluruh rangkaian pemikiran mereka dengan segala pendapat, pemahaman, dan cabang-cabangnya.
Ulama besar Al-Azhar Dr Sayyid Usamah al-Azhari pun menjelaskan bahwa metodologi hakimiah melahirkan pemikiran bahwa umat Islam selain ’’mereka’’ adalah orang-orang jahiliah. Perasaan akan adanya jurang pemisah antara mereka dan umat Islam lainnya. Yang paling mengkhawatirkan, mereka beranggapan telah lebih baik dari orang-orang Islam yang tidak menegakkan konsepnya.
Jadi, konsep Hakimiah yang menjadi dasar utama orang-orang radikalis mengajak untuk mengafirkan pemerintah, mengganggap masyarakat saat ini jahiliah, dan menyatakan bahwa negara umat Islam saat ini adalah wilayah perang.
Apabila pemikiran seperti itu terus dibiarkan, berkembang tanpa adanya usaha untuk membasminya, maka kejadian-kejadian teror selanjutnya seakan hanya tinggal menunggu waktu dan giliran.
Padahal, jika kita kaji lebih dalam lagi hal yang mendasari pemikiran kaum radikal, kita bisa mengatakan bahwa mereka juga salah dalam memahami masalah tamkin Islam. Tamkin merupakan suatu istilah untuk menunjukkan sejumlah prosedur, usaha, dan strategi yang mereka buat untuk meraih kekuasaan dan membentuk entitas politik.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
