Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Juli 2017 | 00.09 WIB

Ultah Istimewa Bareng Korban Perang Iraq

MOMEN ISTIMEWA: Penerima Nobel Perdamaian Malala Yousafzai meniup lilin di kue ulang tahun kejutan saat dia bertemu mahasisi di Arbil, Iraq Utara Selasa (11/7). - Image

MOMEN ISTIMEWA: Penerima Nobel Perdamaian Malala Yousafzai meniup lilin di kue ulang tahun kejutan saat dia bertemu mahasisi di Arbil, Iraq Utara Selasa (11/7).


JawaPos.com - Malala Yousafzai genap berusia 20 tahun pada 12 Juli lalu. Bertepatan dengan hari kelahirannya itu, gadis asal Pakistan tersebut melawat Iraq. Tepatnya Kota Erbil dan Kota Mosul. Dalam kunjungan bertajuk Girl Power Trip itu, dia menemui anak-anak yang terpaksa putus sekolah gara-gara perang.



”Kami menghadapi situasi yang sama. Saat masih di Swat Valley dulu, saya dan teman-teman terpaksa mengungsi karena ancaman teroris dan ekstremis,” kata Malala di Kamp Hassan Shami. Saat itu, dia dan keluarganya terpaksa mengungsi selama tiga bulan untuk menghindari Taliban. Sedangkan anak-anak asal Mosul yang mengungsi ke Kamp Hassan Shami itu baru tiba pekan lalu.



Nayir, salah seorang remaja yang ikut menemui Malala di Kamp Hassan Shami, menyatakan bahwa dirinya putus sekolah sejak sebelum meninggalkan Mosul. ”Pada tahun pertama pendudukan ISIS, saya masih bersekolah. Tapi, pada tahun kedua, ISIS mengganti kurikulum dan saya tidak lagi ke sekolah,” ujar perempuan 13 tahun tersebut. Meski putus sekolah sejak 2015, dia baru bisa kabur dari Mosul beberapa pekan lalu.



Menurut guru-guru di Mosul, ISIS mengambil alih sekolah mereka dengan paksa. Pelajaran di sekolah diganti dengan doktrinasi ISIS. ”ISIS mengganti apel yang biasanya kami gunakan untuk membantu siswa dalam pelajaran berhitung dengan peluru. Pelajaran bahasa Arab berubah menjadi acara mendongengkan kisah remaja pelaku bom bunuh diri,” kata salah seorang guru di Mosul.



Kehadiran ISIS di sekolah itu membuat para orang tua enggan menyekolahkan anak mereka. Maka, Nayir dan teman-teman sebayanya memilih putus sekolah. Tapi, di kamp pengungsi, mereka kembali ke bangku pendidikan. Meski terpaksa menuntut ilmu di dalam tenda dengan temperatur udara yang mencapai 40 derajat Celsius, Nayir dan teman-temannya bersemangat.



”Kami perlu menegaskan ini kepada keluarga para pengungsi di sini. Bahwasanya pendidikan adalah yang terpenting untuk anak-anak mereka,” ujar Malala. Pekan lalu, gadis yang kini tinggal di Inggris itu baru menamatkan pendidikan SMA. Sejak kisah heroiknya melawan Taliban demi mengenyam pendidikan tersiar ke seluruh dunia, Malala menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk mencetak prestasi.



”Pendidikan tidak hanya penting untuk masa depan kita, tapi juga masa depan masyarakat. Saya berdoa agar bisa segera pulang ke Mosul dan membangun kembali kota itu dengan pengetahuan yang kalian miliki,” paparnya. Selain melawat Kamp Hassan Shami di pinggiran Mosul, penerima Nobel Perdamaian 2014 itu menyapa anak-anak di Irbil. Di sana, Malala sempat mengunjungi taman hiburan. (time/nbcnews/hep/c21/any)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore