Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 30 Maret 2017 | 13.00 WIB

Brexit: Kerajaan Pun Terbagi Dua

MENGAPA? Pendukung Inggris tetap bersama EU berdemo di dekat Gedung Parlemen Rabu (29/3). - Image

MENGAPA? Pendukung Inggris tetap bersama EU berdemo di dekat Gedung Parlemen Rabu (29/3).

JawaPos.com – Surat resmi lepasnya Inggris dari Uni Eropa (EU) memicu berbagai reaksi. Tak hanya dari Eropa, di Inggris sendiri masih terjadi kontroversi atas keputusan tersebut meski referendum menyatakan mayoritas orang Inggris berharap bisa lepas dari EU. Kerajaan pun terbagi dua.


Jeremy Corbyn, pemimpin partai oposisi Partai Buruh mengatakan kalau pemerintahan PM Theresa May membawa negara ke arah kerusahan dan kecerobohan. Corbyn mengkritik pernyataan May yang menyebutkan kalau pemerintah tidak akan mengambil deal apa pun bila deal yang ditawarkan buruk dan akan melakukan perdagangan berdasar peraturan yang dibikin Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).


Corbyn mengklaim, itu bakal menghantam pemasukan Inggris. ”PM mengatakan lebih baik tidak mengambil deal bila yang ditawarkan buruk. Tetapi, tidak ada deal yang buruk,” katanya. ”Adalah kegagalan negara bila PM balik dari Brussels tanpa perlindungan untuk pekerjaan dan standar kehidupan bagi Inggris,” sambungnya.


Tetapi, salah seorang arsitek Brexit, Nigel Farage, mantan pemimpin Partai Kebebasan Inggris, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. ”Mimpi yang tidak mungkin terjadi. Hari ini adalah titik yang tidak bisa dikembalikan,” katanya via akun Twitter-nya.


Optimisme yang sama juga dirasakan penduduk kota resor Blackpool, Inggris. Di kawasan ini, 67,5 persen suara mendukung Brexit. ”Saya merasa kita akan bebas. Saya merasa mereka (EU) membelenggu kita karena mereka punya banyak peraturan,” kata seorang lelaki kepada CNN. ”Kita ingin bebas. Kita berperang demi kemerdekaan dan EU tiba-tiba datang dan mengambil alih kebebasan itu. Kita ingin itu dikembalikan,” sambungnya.


Sementara, protes menetang Brexit pun belum berhenti. Salah satunya dari parlemen Skotlandia. Mereka meminta dihelat referendum independen setelah Skotlandia secara mayoritas meminta Inggris tetap di EU.


”Hari ini, PM membawa Inggris ke ujung tebing tanpa tahu tempat mendarat. Skotlandia tidak memilih untuk keluar EU. Suara kami tidak didengarkan,” kata PM Skotlandia pertama Nicola Sturgeon.


Rakyat Inggris pun sama saja. Di depan Gedung Parlemen ada dua demo yang dihelat. Pertama demo suka cita karena Inggris keluar EU dan demo kedua menentang Brexit. (CNN/BBC/tia)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore