
Ilustrasi
JawaPos.com - GM JKT48 Operational Team (JOT) Jiro Inao, 48, yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, menambah panjang daftar kasus bunuh diri di kalangan penduduk Jepang.
Sangking banyaknya kasus bunuh diri, pemerintah Negeri Sakura menjadikan itu sebagai isu nasional. Angkanya memang tidak main-main. Pada 2014 dirilis data kalau dalam sehari ada 70 orang Jepang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dari angka itu, sebagian besar adalah lelaki.
Memang, angkanya sudah menurun. Tetapi tetap saja, dibandingkan negara-negara maju lain di dunia, kasus bunuh diri di Jepang masih yang tertinggi. Dibandingkan dengan Inggris misalnya. Angka bunuh diri di Jepang tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan negara asal David Beckham itu.
Jadi apa penyebabnya? Banyak. Wataru Nishida, psikolog dari Universitas Temple, Tokyo, Jepang, menyebutkan kalau Jepang memiliki tradisi selama berabad-abad untuk bunuh diri demi kebanggaan. Para samurai melakukannya, pun demikian para pilot saat berakhirnya Perang Dunia ke-2 pada 1945. Dan itu sepertinya menjadi alasan kultural mengapa Jepang lebih “mudah” memutuskan untuk bunuh diri.
Tak hanya itu, Nishida mengatakan, tidak ada sejarah agama yang kuat di Jepang juga menjadi pemicunya. ”Jepang tidak punya sejarah agama yang kuat. Jadi, bunuh diri di sini bukanlah dosa. Bahkan, beberapa melihatnya sebagai bentuk tanggung jawab,” kata Nishida.
Belakangan, penyebab utama bunuh diri lebih berputar pada urusan perekonomian dan kehidupan sosial. ”Kesepian, masalah perekonomian, dan isolasi menjadi pemicu depresi dan bunuh diri,” sambungnya.
Celakanya, usia mereka yang bunuh diri pun semakin muda. Tidak hanya orang-orang tua yang merasa hidupnya menjadi beban keluarga. Ken Joseph dari Japan Helpline, lembaga sosial masyarakat, saat ini angka demografi kasus bunuh diri diisi anak muda. ”Bunuh diri menjadi pembunuh nomor satu lelaki usia 20-44 tahun di Jepang,” kata Joseph.
Dikatakan Joseph, para lelaki usia produktif itu memutuskan untuk tidak hidup lagi karena mereka sudah kehilangan harapan dan tidak bisa mencari bantuan. Angka bunuh diri di kalangan anak muda naik sejak krisis keuangan pada 1998. Kemudian, semakin melesat saat krisis keuangan jilid 2 pada 2008.
”Tidak banyak cara untuk menunjukkan kemarahan dan frustrasi di Jepang,” kata Nishida. ”Ini adalah lingkungan berorientasi peraturan. Anak muda dibentuk untuk memenuhi boks-boks kecil. Mereka tidak punya cara untuk menunjukkan perasaan sebenarnya. Jika mereka merasa mendapat tekanan dari bos dan depresi, sebagian besar merasa jalan satu-satunya adalah bunuh diri,” sambung Nishida. (BBC/tia)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
