Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 Februari 2017 | 16.35 WIB

Siti Aisyah "Dilatih" di Tiongkok

Paspor Siti Aisyah, tersangka pembunuh kakak Kim Jong Un - Image

Paspor Siti Aisyah, tersangka pembunuh kakak Kim Jong Un

JawaPos.com - Dari Malaysia, spekulasi mengenai posisi Doan Thi Huong dan Aisyah menjadi agen Korea Utara terus berkembang. China Press bahkan melaporkan bahwa Aisyah sempat tinggal di Tiongkok sebelum pembunuhan Senin lalu. China Press menyebutkan, dua perempuan itu tinggal di Tiongkok selama 1-3 bulan untuk mempelajari sosok seorang laki-laki. 



Selama tinggal di Tiongkok itu juga, mereka diduga berkenalan dengan empat lelaki misterius yang meminta mereka mengerjai seseorang di bandara sebagai lelucon. Di sana juga mereka diketahui berlatih berkali-kali untuk mengejutkan seorang lelaki hingga mahir.



Hingga akhirnya mereka benar-benar menyemprotkan sebuah cairan racun kepada seorang pria hingga tewas pada Senin (13/2) di Bandara Kuala Lumpur. Belakangan terungkap pria itu bukan orang sembarangan. Dia adalah kakak dari pemimpin besar Korut Kim Jong-un. 



Berdasar laporan China Press, Aisyah maupun Doan mungkin bukan agen intelijen Korea Utara. Mungkin mereka diperdaya jaringan intelijen untuk melakukan pembunuhan tersebut. 



Doan ditangkap Polisi Diraja Malaysia pada Rabu (15/2). Dikutip dari Malay Mail Online, sebelum ditangkap, Doan ternyata sempat menginap di tiga hotel berbeda di kawasan Sepang. Dari staf di tiga hotel tersebut diketahui, pemegang paspor Vietnam itu kerap melakukan komplain atas pelayanan hotel. 



Terkait dengan jenazah Jong-nam, sampai saat ini, jenazah masih ditahan pihak Malaysia. Jenazah Jong-nam masih akan ditahan pihak Malayisa sampai keluarga Jong-nam datang membawa sample DNA. Selama syarat tersebut belum dipenuhi, Malaysia tidak akan menggubris permintaan Korea Utara.



Kepada AFP, Kepala Polisi Selangor Datuk Abdul Samah Mat menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada anggota keluarga atau keturunan Jongnam yang datang untuk mengidentifikasi jenazah kakak pemimpin Korea Utara itu. 




"Kami membutuhkan sample DNA dari keluarganya untuk dicocokkan dengan profil jenazah tersebut," katanya kemarin (17/2). "Korea Utara memang sudah mengajukan permintaan. Tapi, sebelum kami mengeluarkan jenazahnya, kami harus mengidentifikasi dulu siapa sebenarnya jenazah tersebut," terangnya. (byu/bay/bil/ang) 


Editor: Thomas Kukuh
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore