
KONFLIK: Kondisi Aleppo yang hancur lebur.
JawaPos.com – Perang sipil di Syria merenggut ribuan nyawa. Bukan hanya di medan perang, melainkan juga di dalam penjara. Berdasar laporan pengamat HAM Amnesty International yang dirilis kemarin (7/2), terungkap bahwa 5 ribu–13 ribu warga sipil tewas di penjara militer Saydnaya, sebelah utara Damaskus, selama 2011–2015. Mereka disiksa sedemikian rupa sebelum digantung.
’’Kengerian yang digambarkan dalam laporan ini mengungkapkan kampanye tersembunyi dan mengerikan yang diizinkan pejabat tertinggi di pemerintah Syria untuk menghancurkan segala bentuk perbedaan pendapat di Syria,’’ ujar Lynn Maalouf, wakil direktur bagian penelitian Amnesty International di Beirut, Lebanon.
Dalam laporan tersebut, terungkap bahwa para tahanan adalah penduduk sipil yang mendukung oposisi. Mereka disiksa, kekurangan makanan, serta tidak mendapatkan akses terhadap obat-obatan. Ketika para petugas sudah puas menyiksa, mereka akan digiring untuk menemui ajalnya. Eksekusi dilakukan secara diam-diam pada tengah malam. Sebanyak 20–50 orang bakal digiring ke area eksekusi seminggu sekali.
Para tahanan lain sudah terbiasa mendengar suara orang tercekik ketika proses eksekusi terjadi. Para korban dibiarkan menggantung sekitar 10 menit. Beberapa tetap tidak meninggal karena badannya yang begitu kurus. Jika begitu, petugas menarik tubuhnya sehingga leher korban patah dan akhirnya tewas.
’’Jika meletakkan telinga di lantai, kamu bisa mendengar suara tercekik selama 10 menit. Kami tidur di atas suara orang-orang yang tercekik hingga tewas. Lama-lama saya terbiasa,’’ kata Hamid, salah seorang mantan anggota militer yang ditahan di Saydnaya.
Jenazah para korban dimasukkan truk dan dibawa ke rumah sakit militer Tishreen di Damaskus untuk registrasi. Mereka lantas dimakamkan di kuburan masal di tanah milik militer. Keluarga korban tidak pernah diberi tahu tentang nasib orang-orang terkasih.
Amnesty International meminta negara-negara pendukung Syria seperti Rusia dan Iran menggunakan kekuatan agar kekejian itu benar-benar berhenti. (Reuters/BBC/CNN/sha/c14/any/tia)

Prediksi Skor Kolombia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Misi Los Cafeteros Lolos 16 Besar, Siap Kirim Pulang Wakil Afrika
Prediksi Skor Australia vs Mesir di 32 Besar Piala Dunia 2026: The Pharaohs Menang Tipis Lewat Duel Sengit
Prediksi Skor Kanada vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Lebih Diunggulkan, Mampukah Les Rouges Balas Dendam?
Prediksi Skor Paraguay vs Prancis di 16 Besar Piala Dunia 2026: Ujian Konsistensi si Biru
Penjelasan Gol Offside Kroasia ke Gawang Portugal! Keputusan Kontroversial di 32 Besar Piala Dunia 2026
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Kisah Renato Veiga, Bek Timnas Portugal yang Tumbuh di Maroko hingga Memilih Memeluk Agama Islam
Prediksi Skor Australia vs Mesir: Bursa Taruhan Unggulkan The Pharaohs, Opta Hanya Jagokan Socceroos 46 Persen
Prediksi Skor Argentina vs Tanjung Verde: Bursa Taruhan Jagokan Albiceleste, Opta Beri Peluang Menang Lebih dari 80 Persen
Prediksi Skor Australia vs Mesir di Piala Dunia 2026: Menanti Kejutan Satu-satunya Wakil Asia
