
This photograph taken on May 28, 2020 shows labourers queueing for a temperature check at the Aqualite footwear factory in Bahadurgarh in the northern Indian state of Haryana, after the government eased a nationwide lockdown imposed as a preventive measur
JawaPos.com - Kebijakan pelonggaran pembatasan atau karantina di India memicu melonjaknya pertambahan kasus Covid-19. Pada Sabtu (6/6), India mencatat 9.887 positif Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Itu menjadi kasus harian tertinggi sejak otoritas India melaporkan kasus pertama.
Pertambahan itu membuat jumlah pasien positif Covid-19 di India menempati urutan keenam terbanyak dunia dan melampaui angka di Italia. Tingginya kasus positif di India terjadi dua hari setelah pemerintah melonggarkan aturan karantina dengan membuka kembali mal, restoran, dan tempat ibadah.
Total pasien positif di India saat ini meningkat menjadi 246.622 berdasar Worldometers. Jumlah itu melewati Italia yang melaporkan 234.801 kasus positif. India menjadi negara Asia dengan kasus positif Covid-19 terbanyak. Jauh melewati Tiongkok yang hingga kini terdapat 83.030 kasus positif.
Dari jumlah kasus positif, angka kematian di India 6.946 jiwa. Sedangkan angka kesembuhan mencapai 118.695 orang. Angka kematian di India masih lebih rendah dari Italia. Seperti diketahui, angka kematian di Italia mencapai 33.846 jiwa per Sabtu (6/6).
Pemerintah di bawah pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, cemas untuk mengaktifkan kembali ekonomi yang terpuruk akibat Covid-19. Namun, India tetap berupaya membuat jutaan rakyatnya kembali bekerja dengan melonggarkan aturan karantina.
Otoritas di India memberlakukan karantina sejak Maret. Kebijakan itu, menurut pemerintah, berhasil mencegah kasus positif bertambah cepat.
Hanya saja, pemerintah India dinilai terlalu cepat dalam melonggarkan karantina. Pemerintah melonggarkan pembatasan sejak Senin lalu meski sejumlah ahli khawatir langkah itu terlalu cepat dilakukan.
Giridhar R Babu, seorang epidemiolog di Yayasan Kesehatan Masyarakat India/Public Health Foundation of India, mempertanyakan langkah pemerintah yang membuka kembali tempat ibadah. "Kita dapat bertahan hidup dan menjaga kasus positif tidak terus bertambah tanpa harus membuka tempat ibadah untuk sementara waktu," kata Babu lewat unggahannya di Twitter seperti dilansir Antara.
Meski beberapa tempat umum kembali dibuka, pemerintah masih melarang konser musik, pertandingan olahraga, dan kampanye politik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Jumat (5/6) mengatakan karantina di India membantu menekan pertumbuhan angka pasien positif. Namun saat ini, jumlah pasien positif telah naik saat pembatasan dilonggarkan.
"Saat India dan negara besar lainnya kembali membuka tempat umum dan orang-orang mulai berpindah tempat, selalu ada risiko virus akan kembali menyebar," kata dr Mike Ryan, kepala program darurat WHO, saat jumpa pers di Jenewa, Swiss.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=5cKJCLaUN-g
https://www.youtube.com/watch?v=9FQY9NOUUM0
https://www.youtube.com/watch?v=WtV0hYrRWAc
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Ferry Juliantono Rencanakan Penyaluran Gaji PNS dan Pensiun lewat Koperasi
Prediksi Skor Buriram vs Borneo di ASEAN Club Championship: Thunder Castle Menang Tipis
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Kuching City vs Tampines di ASEAN Club Championship: The Cats Unggul Tipis
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Didik J Rachbini: Putusan MK Ungkap Kebohongan Gibran dan Jokowi
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Meksiko vs Cile: El Tri Bakal Bangkit, La Roja Akhiri Tren Buruk
Gibran Terbukti Tak Punya Ijazah SMA, tapi MK Tidak Berwenang Diskualifikasi dari Wapres

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022