Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Oktober 2021 | 23.24 WIB

Efektivitas Vaksin Pfizer Turun jadi 47 Persen Setelah 6 Bulan

Vaksin Pfizer (Gavin Foo ST).jpg - Image

Vaksin Pfizer (Gavin Foo ST).jpg

JawaPos.com - Efektivitas vaksin Pfizer-BioNTech dalam mencegah infeksi virus Korona turun menjadi 47 persen dari 88 persen dalam enam bulan setelah pemberian suntikan dosis kedua. Hal ini menurut data penelitian yang diterbitkan pada Senin (4/10).

Sejumlah badan Kesehatan Amerika Serikat mempertimbangkan data tersebut saat memutuskan untuk menyuntikkan vaksin penguat (booster) atau vaksin dosis ketiga.

Data hasil studi mengenai penurunan kemanjuran vaksin Pfizer-BioNTech itu, yang disampaikan dalam jurnal medis yang diterbitkan Lancet, sudah dirilis pada Agustus, namun belum ditinjau rekan sejawat (peer review).

Hasil analisis data itu menunjukkan bahwa vaksin Pfizer-BioNTech masih sangat efektif (90 persen) dalam mencegah kasus gejala berat yang mengharuskan pasien Covid-19 mendapat perawatan di rumah sakit dan kasus kematian setidaknya selama enam bulan. Bahkan, vaksin tersebut juga masih manjur dalam melawan varian Delta yang lebih menular.

“Analisis varian spesifik kami dengan jelas menunjukkan bahwa vaksin Pfizer-BioNTech efektif melawan semua varian yang menjadi perhatian saat ini, termasuk Delta,” kata Luis Jodar, wakil presiden senior dan kepala penasihat medis di vaksin Pfizer.

Keterbatasan dari penelitian itu adalah kurangnya data tentang kepatuhan terhadap pedoman penggunaan masker dan jenis pekerjaan yang dimiliki orang-orang dalam populasi penelitian, yang dapat memengaruhi frekuensi tes Covid-19 dan kemungkinan terpapar virus Korona.

Efektivitas vaksin Pfizer melawan varian Delta adalah 93 persen setelah satu bulan pemberian dosis kedua. Setelah empat bulan pemberian dosis kedua, efektivitas vaksin Pfizer melawan varian Delta menurun menjadi 53 persen menurut penelitian.

Terhadap varian Covid-19 lainnya, efektivitas vaksin Pfizer melawan virus Korona menurun menjadi 67 persen dari 97 persen. "Bagi kami, itu menunjukkan bahwa Delta bukanlah varian Covid-19 yang sepenuhnya menghindari perlindungan vaksin," kata Sara Tartof pemimpin studi dari Departemen Riset & Evaluasi Kaiser Permanente.

"Jika Delta merupakan varian yang sepenuhnya kebal vaksin, kita mungkin tidak akan melihat tingkat perlindungan yang tinggi setelah vaksinasi, karena vaksinasi tidak akan berhasil dalam kasus itu. Efektivitas vaksin akan rendah dan tetap rendah," ujarnya.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat mengizinkan penggunaan vaksin dosis ketiga untuk lansia dan orang-orang yang memiliki risiko tinggi terkena Covid-19. Para ilmuwan telah meminta lebih banyak data untuk mengetahui apakah vaksin dosis ketiga harus direkomendasikan untuk semua orang.

Editor: Edy Pramana
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore