
Ilustrasi beruang cokelat. Beruang jenis inilah yang diyakini menyerang pendaki di Hokkaido Jepang hingga tewas. (Freepik)
JawaPos.com - Kisah tragis menyelimuti pegunungan Jepang setelah seorang pendaki ditemukan tewas akibat serangan beruang cokelat.
Namun, sebuah fakta mengerikan baru saja terungkap, melalui teknologi jam tangan GPS milik korban yang merekam seluruh kronologi memilukan di detik-detik terakhir hidupnya.
Data satelit ini memberikan gambaran jelas bagaimana pertemuan mematikan itu terjadi di tengah rimbunnya hutan Hokkaido.
Dikutip dari CBS News, terungkap data GPS yang ditemukan setelah serangan pada 14 Agustus 2025.
Pendaki tersebut terlihat tiba-tiba keluar dari jalur resmi dan menuruni lereng curam. Di tengah semak belukar yang sangat lebat, jam tangan tersebut mencatat pergerakan yang tidak wajar.
Korban terpantau bergerak berulang-ulang di satu titik, seolah-olah sedang berputar dalam kondisi bingung atau ketakutan hebat. Detak jantungnya terus terekam hingga akhirnya berhenti total pada jarak sekitar 100-130 yard dari jalur setapak.
Penderitaan tidak berhenti di situ. Laporan dari surat kabar Asahi Shimbun menyebutkan bahwa keesokan harinya, jam tangan tersebut kembali mendeteksi pergerakan sejauh beberapa ratus meter.
Diduga kuat, beruang cokelat tersebut kembali ke lokasi dan menyeret tubuh korban masuk lebih dalam ke hutan.
Tragedi ini hanyalah satu dari sekian banyak insiden berdarah di Jepang belakangan ini. Tahun ini menjadi salah satu yang paling mematikan dengan catatan 13 orang tewas dan lebih dari 200 orang terluka akibat serangan beruang.
Beruang kini tidak hanya bersembunyi di hutan, tetapi mulai berani memasuki pemukiman, sekolah, hingga area komersial.
Ketakutan ini nyata: orang tua kini takut melepas anak bermain, dan warga lansia di pedesaan merasa terancam di rumah mereka sendiri.
Para ahli menilai perubahan iklim sebagai pemicu utama. Musim yang bergeser membuat sumber makanan alami di hutan berkurang drastis, memaksa hewan besar ini mencari alternatif di kawasan berpenghuni.
Selain faktor alam, menyusutnya populasi manusia di pedesaan Jepang juga menjadi celah bagi satwa liar untuk memperluas wilayah.
Ahli biologi Koji Yamazaki menjelaskan, penurunan populasi manusia memberi beruang kesempatan untuk memperluas wilayah jelajah mereka.
Ancaman ini bahkan meluas hingga ke destinasi wisata musim dingin. Di sebuah resor ski di Nagano, seorang pemain snowboard sempat merekam momen menegangkan saat seekor beruang berlari kencang ke arahnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
