Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Oktober 2025 | 16.47 WIB

Homo Floresiensis, Ketika Hobbit Bukan Sekadar Fiksi

Homo Floresiensis, Manusia Purba Kerdil dari Pulau Flores. (nhm.ac.uk) - Image

Homo Floresiensis, Manusia Purba Kerdil dari Pulau Flores. (nhm.ac.uk)

JawaPos.com - Penemuan Homo floresiensis di Gua Liang Bua, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu temuan paling mengejutkan dalam sejarah paleoantropologi modern.

Spesies manusia purba bertubuh mungil ini, yang dijuluki “Hobbit” karena tinggi badannya hanya sekitar 106 cm, pertama kali ditemukan pada 2003 oleh tim gabungan peneliti Indonesia dan Australia.

Fosil LB1, kerangka perempuan dewasa yang hampir lengkap, menunjukkan bahwa Homo floresiensis bukan Homo sapiens yang mengalami kelainan, melainkan spesies manusia yang benar-benar berbeda.

Menurut Smithsonian Institution, Homo floresiensis hidup antara 100.000 hingga 60.000 tahun lalu dan menggunakan alat batu sederhana untuk berburu hewan seperti Stegodon, tikus besar, dan bahkan menghindari predator seperti komodo.

“Meski ukuran otaknya kecil, mereka mampu membuat dan menggunakan alat, berburu, dan mungkin menggunakan api,” ujar Dr. Matt Tocheri, peneliti dari Smithsonian, dalam laman resmi mereka, humanorigins.si.edu.

Melansir uow.edu.au, penelitian lanjutan yang dipublikasikan oleh University of Wollongong pada 2024 mengungkap bahwa nenek moyang Homo floresiensis yang ditemukan di situs Mata Menge, sekitar 72 km dari Liang Bua, memiliki tubuh yang bahkan lebih kecil.

Fosil humerus dewasa yang ditemukan di sana diperkirakan berasal dari individu setinggi hanya 103 cm dan hidup sekitar 700.000 tahun lalu.

“Awalnya kami kira tulang ini milik anak-anak, tapi setelah diteliti, ternyata berasal dari individu dewasa yang sangat kecil,” kata Dr. Gerrit van den Bergh, paleontolog dari UOW.

Temuan ini memperkuat teori bahwa Homo floresiensis merupakan hasil dari proses evolusi yang disebut island dwarfism, yaitu adaptasi tubuh menjadi lebih kecil akibat keterbatasan sumber daya dan minimnya predator di lingkungan pulau.

“Mungkin tidak ada kebutuhan untuk tubuh besar yang memerlukan lebih banyak makanan dan waktu tumbuh. Pulau Flores yang terisolasi memungkinkan tubuh kecil bertahan,” ujar Yousuke Kaifu dari University of Tokyo dalam wawancaranya dengan Al Jazeera.

Meski memiliki otak seukuran simpanse, Homo floresiensis menunjukkan kecerdasan yang tak bisa diremehkan. Dalam artikel ScienceAlert, antropolog Tesla Monson menyebut bahwa ukuran otak bukanlah penentu kecerdasan.

“Para Hobbit ini mungkin kecil, tapi mereka sangat cakap. Mereka berburu, membuat alat, dan kemungkinan besar menggunakan api,” ujarnya.

Keberadaan Homo floresiensis membuka bab baru dalam pemahaman evolusi manusia. Ia bukan sekadar fosil, melainkan simbol bahwa sejarah manusia penuh dengan cabang evolusi yang unik dan tak terduga.

Di balik tubuh mungilnya, tersimpan kisah besar tentang adaptasi, ketahanan, dan misteri yang masih terus digali oleh para ilmuwan dunia. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore