Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 September 2025 | 23.29 WIB

Thomas Alva Edison dan Sejarah Lampu Pijar yang Mengubah Dunia

Thomas Alva Edison, tokoh di balik sejarah lampu pijar. (History.com) - Image

Thomas Alva Edison, tokoh di balik sejarah lampu pijar. (History.com)

JawaPos.com - Thomas Alva Edison lahir pada 11 Februari 1847 di Milan, Ohio, Amerika Serikat. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan besar terhadap eksperimen ilmiah dan berbagai penemuan. Edison hanya sebentar menempuh pendidikan formal sebelum akhirnya ibunya mengambil alih dan mengajarinya di rumah.

Pada usia 12 tahun, ia bekerja sebagai penjaja koran di kereta api lokal. Dari hal itu, Edison mendapat akses ke beragam literatur ilmiah yang memperluas wawasannya di luar kelas sekolah tradisional. Rasa ingin tahunya yang besar serta semangat belajarnya yang tinggi membuatnya terus bereksperimen dengan berbagai alat di sekitarnya.

Salah satu penemuan paling terkenal dari Edison adalah lampu pijar. Menurut Kemendikdasme, banyak orang mengira Edison adalah penemu pertama lampu pijar, padahal ia sesungguhnya menyempurnakan desain yang sudah ada sebelumnya. Berbekal pengetahuan di bidang kimia dan teknik, Edison berhasil merancang filamen yang bisa bertahan lebih lama di dalam ruang hampa udara.

Dilansir dari The Franklin Institute, pada Januari 1879 di laboratoriumnya di Menlo Park, New Jersey, Edison berhasil membangun lampu pijar dengan resistansi tinggi. Alat ini bekerja dengan cara mengalirkan listrik melalui filamen tipis berbahan platinum dalam bohlam kaca hampa udara, sehingga menunda filamen tersebut dari meleleh.

Namun, lampu ini hanya bertahan beberapa jam saja. Untuk memperbaikinya, Edison membutuhkan ketekunan yang sudah ia asah sejak lama. Ia melakukan ribuan percobaan dengan berbagai bahan untuk filamen.

Suatu hari, ketika sedang iseng menggulung potongan karbon di laboratoriumnya, Edison mendapat ide untuk menguji berbagai bahan tanaman yang sudah dikarbonisasi. Ia mencoba filamen dari kayu bay, boxwood, hickory, cedar, hingga bambu. Edison bahkan meminta bantuan ahli biologi untuk mengirimkan serat tanaman dari wilayah tropis.

Eksperimen ini sangat melelahkan dan menuntut, baik bagi Edison maupun para asistennya. Meski demikian, ia selalu menekankan pentingnya kerja keras dan ketekunan. Akhirnya, Edison mencoba filamen dari benang kapas yang dikarbonisasi. Saat tegangan listrik dialirkan ke bohlam, cahaya oranye lembut terpancar.

Filamen itu mampu bertahan selama kurang lebih 15 jam sebelum akhirnya putus. Dari sanalah ia melanjutkan uji coba dan menemukan filamen yang semakin tahan lama. Atas hasil inovasi ini, Edison memperoleh hak paten dengan nomor 223,898 untuk lampu listriknya pada 27 Januari 1880.

Produk lampu pijar hasil pengembangan Edison inilah yang desainnya mirip dengan lampu modern yang kita gunakan di rumah saat ini, termasuk soket dasar yang hingga kini tetap dipakai.

Edison dengan bangga mengatakan kepada seorang reporter The New York Times, “Cahayaku akhirnya sempurna”. Pernyataan itu muncul setelah demonstrasi publik pada 31 Desember 1879, ketika laboratorium Menlo Park dipenuhi ratusan orang yang ingin menyaksikan cahaya listrik menyala dengan sempurna.

Meski begitu, perjalanan lampu listrik tidak berhenti di sana. Seorang penemu bernama Lewis Latimer kemudian menyempurnakan hasil karya Edison dengan membuat filamen lampu menjadi lebih tahan lama serta meningkatkan proses produksinya agar lebih efisien. Sementara itu, Edison sendiri mendirikan perusahaan listrik dan terus mengembangkan inovasi agar cahaya listrik dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.

Menurut The Franklin Institute, sebelum wafat pada tahun 1931, Edison telah mematenkan sebanyak 1.093 penemuan. Karya-karya besarnya antara lain mikrofon, penerima telepon, universal stock ticker, fonograf, kinetoskop, baterai penyimpanan, pena listrik, hingga mesin mimeograph. Dari sebuah temuan asistennya, Edison juga mematenkan Edison Effect atau yang kini dikenal sebagai dioda termionik, cikal bakal teknologi tabung elektron.

Edison akan selalu dikenang sebagai tokoh penting dalam sejarah lampu pijar. Walaupun ia bukan orang pertama yang menciptakan bohlam, kontribusinya dalam menyempurnakan desain dan membuat cahaya listrik dapat digunakan secara praktis adalah sebuah lompatan besar. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore