Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 12 September 2025 | 22.28 WIB

Merah di Tengah Es: Membongkar Misteri Blood Falls, Air Terjun Berdarah Antartika

Misteri air terjun berdarah (National science Foundation/Peter Rejcek/Public Domain/Wikimedia Commons)

JawaPos.com - Di tengah bentang es Antartika yang membeku, terdapat fenomena alam yang mencolok dan penuh teka-teki, yaitu Blood Falls, atau Air Terjun Berdarah. 

Terletak di ujung Gletser Taylor, kawasan Lembah Kering McMurdo, air terjun ini mengalirkan cairan berwarna merah darah yang kontras dengan lanskap putih di sekitarnya. Penampakan ini telah memikat perhatian ilmuwan sejak pertama kali ditemukan pada awal abad ke-20.

Warna merah pekat yang mengalir dari gletser bukan berasal dari darah atau alga, melainkan dari air asin yang kaya zat besi. Ketika air tersebut keluar dari bawah gletser dan bersentuhan dengan udara, zat besi mengalami oksidasi dan menghasilkan warna merah yang menyerupai darah. 

"Begitu saya melihat gambar dari mikroskop, saya langsung melihat partikel kecil kaya zat besi," ujar Ken Livi, ilmuwan dari Johns Hopkins University, seperti dikutip dari ScienceAlert.

Ia menjelaskan bahwa partikel itu berasal dari mikroba purba dan ukurannya hanya seperseperseratus sel darah merah manusia.

Penelitian terbaru juga mengungkap bahwa partikel merah tersebut bukanlah mineral biasa. "Nanosfer ini tidak memiliki struktur kristalin, sehingga metode sebelumnya tidak mampu mendeteksinya," tambah Livi.

Selain zat besi, partikel ini juga mengandung silikon, kalsium, aluminium, dan natrium, komposisi unik yang memperkuat warna merah saat air keluar dari gletser dan bertemu oksigen.

Lebih dari sekadar fenomena visual, Blood Falls menyimpan kehidupan mikroba ekstrem yang hidup tanpa cahaya, tanpa oksigen, dan di bawah tekanan es setebal ratusan meter. 

Penemuan ini menjadi penting bagi para astrobiolog yang tengah meneliti kemungkinan kehidupan di planet lain.

"Jika robot seperti Mars Rover tidak dilengkapi dengan alat yang tepat, mereka mungkin tidak akan mendeteksi kehidupan seperti ini," kata Livi dalam wawancaranya.

Penelitian dari University of Alaska Fairbanks dan Colorado College juga menunjukkan bahwa air asin ini tetap cair meskipun suhu di dalam gletser mencapai -17°C. Kandungan garam yang sangat tinggi serta pelepasan panas saat pembekuan memungkinkan air tetap mengalir di bawah es.

Blood Falls bukan hanya keajaiban geologi, tetapi juga jendela menuju masa lalu bumi dan masa depan eksplorasi luar angkasa. Fenomena ini menjadi bukti bahwa Antartika menyimpan lebih banyak rahasia dari yang selama ini kita bayangkan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore