Misteri air terjun berdarah (National science Foundation/Peter Rejcek/Public Domain/Wikimedia Commons)
JawaPos.com - Di tengah bentang es Antartika yang membeku, terdapat fenomena alam yang mencolok dan penuh teka-teki, yaitu Blood Falls, atau Air Terjun Berdarah.
Terletak di ujung Gletser Taylor, kawasan Lembah Kering McMurdo, air terjun ini mengalirkan cairan berwarna merah darah yang kontras dengan lanskap putih di sekitarnya. Penampakan ini telah memikat perhatian ilmuwan sejak pertama kali ditemukan pada awal abad ke-20.
Warna merah pekat yang mengalir dari gletser bukan berasal dari darah atau alga, melainkan dari air asin yang kaya zat besi. Ketika air tersebut keluar dari bawah gletser dan bersentuhan dengan udara, zat besi mengalami oksidasi dan menghasilkan warna merah yang menyerupai darah.
"Begitu saya melihat gambar dari mikroskop, saya langsung melihat partikel kecil kaya zat besi," ujar Ken Livi, ilmuwan dari Johns Hopkins University, seperti dikutip dari ScienceAlert.
Ia menjelaskan bahwa partikel itu berasal dari mikroba purba dan ukurannya hanya seperseperseratus sel darah merah manusia.
Penelitian terbaru juga mengungkap bahwa partikel merah tersebut bukanlah mineral biasa. "Nanosfer ini tidak memiliki struktur kristalin, sehingga metode sebelumnya tidak mampu mendeteksinya," tambah Livi.
Selain zat besi, partikel ini juga mengandung silikon, kalsium, aluminium, dan natrium, komposisi unik yang memperkuat warna merah saat air keluar dari gletser dan bertemu oksigen.
Lebih dari sekadar fenomena visual, Blood Falls menyimpan kehidupan mikroba ekstrem yang hidup tanpa cahaya, tanpa oksigen, dan di bawah tekanan es setebal ratusan meter.
Penemuan ini menjadi penting bagi para astrobiolog yang tengah meneliti kemungkinan kehidupan di planet lain.
"Jika robot seperti Mars Rover tidak dilengkapi dengan alat yang tepat, mereka mungkin tidak akan mendeteksi kehidupan seperti ini," kata Livi dalam wawancaranya.
Penelitian dari University of Alaska Fairbanks dan Colorado College juga menunjukkan bahwa air asin ini tetap cair meskipun suhu di dalam gletser mencapai -17°C. Kandungan garam yang sangat tinggi serta pelepasan panas saat pembekuan memungkinkan air tetap mengalir di bawah es.
Blood Falls bukan hanya keajaiban geologi, tetapi juga jendela menuju masa lalu bumi dan masa depan eksplorasi luar angkasa. Fenomena ini menjadi bukti bahwa Antartika menyimpan lebih banyak rahasia dari yang selama ini kita bayangkan.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022