
Suasana berbuka bersama di University of Leeds
Setiap Selasa selama Ramadan, LUU sebagai perwakilan pihak kampus bekerja sama dengan Islamic Student Society menggelar buka puasa bersama secara gratis. Di sini lah tempat saya mencari suara azan yang menggema lantang. Hal lain yang membuat saya terkesima.
Di dalam fasilitas kampus, saat Maghrib tiba, seseorang akan mengambil posisi menghadap kiblat dan melantunkan azan dengan lantang. Lalu, dilanjutkan berbuka dengan kurma dan minuman yang telah disediakan. Setelahnya bergegas ke salah satu ruangan yang telah disediakan untuk salat Maghrib berjamaah.
Setelah salat, sudah tersedia makanan mulai dari pizza, sandwich, potato wedges hingga root vegetable chips dalam jumlah banyak. Siapapun boleh datang dan dipersilahkan makan Bersama. Bahkan jika masih tersisa, maka saat pulang kita boleh membawa pulang makanan yang kita inginkan.
Rasanya begitu hangat. Percayalah. Ketika kamu berdiri di negeri orang sebagai minoritas, namun dukungan yang kamu rasakan untuk dapat menjalani ibadahmu dengan lancar dan lebih ringan datang dari banyak pihak, ada rasa syukur yang tak pernah putus. Toleransi yang mereka lakukan terasa begitu besar bagi kami, para Muslim di sini.
Sejak awal saya tinggal di Leeds memang saya merasa kota ini begitu ramah dengan Muslim. Dengan mudahnya saya menemukan toko daging halal, restoran berlabel halal hingga berdirinya dua masjid di sekitar kota yakni Leeds Grand Mosque dan Makkah Masjid. Belum lagi di kampus, tersebar beberapa ruangan yang berperan sebagai musola kecil sehingga tidak ada kendala untuk salat selama sedang sibuk beraktivitas di kampus.
Namun tak disangka, segala kemudahan dan dukungan itu juga terjadi saat Ramadan. Mungkin saya dan teman-teman Muslim di sini beruntung tinggal di Leeds. Berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana toleransi itu dibangun bagi siapa saja dengan tidak memandang ras, suku, bangsa bahkan agama. Satu pengalaman berpuasa yang mengajarkan banyak hal dan membuka mata akan pentingnya toleransi.
Berpeluang menjadi minoritas yang dihargai dan dihormati kepercayaan dan tradisinya, sehingga nantinya ketika kami kembali ke Tanah Air dan kembali menjadi pihak mayoritas, kami sudah berbekal pengalaman untuk berbagi dan memberikan tempat yang sama layaknya bagi saudara-saudara kami lainnya yang mungkin masih minoritas.
Leeds mengajarkan bahwa toleransi harus dibangun untuk dapat menciptakan suasana rukun dan damai. Menjadikan siapapun merasa Leeds sebagai rumahnya, bukan lah turis atau pelajar asing yang tinggal sementara. Sebagai balasannya, kami yang merasa disejajarkan tempatnya dengan penduduk lokal sini pun merasa memiliki Leeds, tergerak untuk menjaga dan melindunginya sebagaimana rumah sendiri.
Ditulis oleh:
Namira Daufina
Mahasiswi S2 jurusan MA New Media, University of Leeds, UK, Sekretaris PPI Leeds dan anggota PPI Dunia
Untuk JawaPos.com

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
