Ibtisam Ghalia bersama empat anaknya berjuang hidup di tengah blokade Israel di Gaza (Dok. Enas Tantesh/The Guardian)
JawaPos.com - Setiap hari, Ibtisam Ghalia, seorang mantan perawat Gaza bersama empat anaknya menghitung sisa makanan yang mereka miliki. Dikutip dari kisahnya di The Guardian, ia berusaha bertahan hidup ditengah blokade total yang dilakukan oleh Israel sejak dua bulan lalu.
Akibat blokade Israel, makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan kebutuhan lainnya tak bisa masuk ke wilayah yang porak-poranda ini.
Selama itu pula, persediaan dapur dari wanita 32 tahun itu makin menipis, tak banyak yang tersisa. Hanya sedikit kacang, sebungkus lentil, sedikit garam, beberapa rempah, dan cukup tepung untuk membuat enam roti pipih.
Roti itu dimasak di atas wajan besi yang dipanaskan dengan api dari kayu bekas, plastik limbah, dan kardus. Bahan bakar seadanya karena tak ada lagi gas atau bensin yang bisa digunakan.
Dulu, dia masih bisa mendapatkan bantuan tunai dari LSM dan membeli sayur atau buah dari pasar. Kadang, ada tetangga atau kerabat yang memberinya sebungkus tepung. Namun, semua itu kini makin langka dan mahal.
Gula yang dulunya hanya satu dolar per kilogram, kini melonjak jadi 20 dolar. Tepung berkualitas buruk pun harganya tak terjangkau. Pabrik roti bantuan WFP sudah tutup sejak lama.
Dapur umum yang biasa menyediakan hampir satu juta porsi makanan sehari pun mulai kehabisan pasokan, gudang PBB juga kosong melompong. Sudah berbulan-bulan keluarga Ghalia tak menyentuh daging atau produk susu.
Pada Desember 2023, suaminya, Hamza, tewas akibat serangan drone Israel saat mencari makanan di reruntuhan rumah mereka. Ia bersama paman dan sepupu Ghalia.
"Saya tidak menjerit atau menangis saat menemukan mereka. Saya bersyukur bisa menemukan dan menguburkan mereka," kenang Ghalia.
"Rumah sakit menolak menerima jasadnya karena sudah mulai membusuk dan tak ada kain kafan. Jadi kami membungkus mereka dengan selimut dan menguburkannya sendiri."
Anak-anaknya menangis setiap hari. Dua yang tertua, kini berusia 10 dan 9 tahun, terus merindukan sang ayah.
"Saya bilang kita akan bertemu lagi di surga," kata Ghalia pelan.
Minggu lalu, saudari Ghalia tertembak di kaki saat sedang memasak di samping tenda. Peluru nyasar itu hampir mengenai anak-anak.
Anak sulungnya, Hossam yang baru berusia 10 tahun, kini rutin mencari kayu bakar ke area kosong di sekitar kamp. Tanpa gas atau bensin, hanya itu pilihan mereka.

Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Media Jerman Pusing Lihat Ngerinya Performa Veda Ega Pratama di Sesi Practice Moto3 Hungaria 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Eksklusif! Perjuangan Nyo Daftar Player Escort Sejak 2024, Menangis Haru Dipeluk Nathan Tjoe-A-On di Timnas Indonesia
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
