
KESAKSIAN KORBAN: Ridwan, WNI yang memberikan testimoni secara virtual di hearing Senat Filipina (19/4).
JawaPos.com - Dari kesaksiannya, Kepolisian Nasional Filipina seharusnya bisa bergerak lebih cepat membongkar sindikat penipuan daring yang terindikasi dengan perdagangan orang. Sebab, Ridwan, demikian dia diidentifikasi, membeberkan bagaimana dirinya direkrut dari Indonesia, diperlakukan di bandara, dan dipekerjakan selama di Filipina.
Mengenakan hoodie dan kacamata hitam sebagai bagian untuk melindungi identitasnya, Ridwan menyampaikan kesaksian di hadapan senat Filipina secara daring pada 19 April lalu. Dia menyebut semua berawal dari unggahan di Facebook tentang lowongan pekerjaan digital marketer pada Februari lalu.
Lokasinya bukan di Indonesia, melainkan Manila, Filipina. Ridwan yang tertarik akhirnya melamar dan diterima. Dia berangkat dari Jakarta bersama dua orang Indonesia lainnya pada 7 Maret. Perekrut meminta mereka untuk berswafoto bersama.
Saat mendarat di Manila, ketiganya bertemu dengan seseorang bercelana biru tua, kemeja putih, dan rompi hijau apel yang memiliki salinan swafoto mereka. Orang tersebut mengantar mereka melalui biro karantina dan loket biro imigrasi.
”Petugas tidak mengajukan pertanyaan dan mengecap paspor kami,” ujar Ridwan di hadapan Komite Senat untuk Perempuan, Anak, Hubungan Keluarga, dan Kesetaraan Gender Filipina 19 April lalu seperti dikutip Coconuts Manila.
Dari bandara, Ridwan dan kedua rekan dibawa ke Bayport West NAIA Garden Residences di Pasay City, Metro Manila. Dia diminta menandatangani kontrak, tapi tidak diperbolehkan membacanya. Ridwan menandatanganinya karena saat itu dirinya merasa takut dan tertekan.
”Saya melihat 100–200 orang Indonesia di kompleks itu. Selain itu, ada orang dari negara lain,” terangnya.
Mereka diperintah mencuri identitas orang lain dan menipu sesama orang Indonesia dengan cara mencari kenalan di Tinder, Facebook, serta Instagram. Mereka diinstruksi memancing target dengan membuat akun palsu sebagai seorang perempuan muda dan membuat para korban jatuh cinta. Ketika sudah terjebak asmara, korban didesak untuk berinvestasi dalam mata uang kripto.
Tentu saja investasi kripto tersebut adalah penipuan untuk menguras uang korban. Jika tidak berhasil menipu, mereka bakal dihukum. Ridwan mengaku mengetahui ruang rahasia untuk menghukum para pekerja dengan cara disetrum. (sha/c19/ttg)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
