
BERSAING KE SATELIT BUMI: Odysseus terbang di dekat sisi bulan setelah melewati orbit dalam misi IM-1 (21/2).
JawaPos.com – Band Pink Floyd sebenarnya sudah mengingatkan, ”The Dark Side of the Moon”. Sebuah metafora memang, tapi pesannya jelas: bulan itu punya ”wajah buruknya”.
Namun, tetap saja satelit bumi itu seperti tak henti menarik minat orang untuk menjelajahinya. Petikan lirik lagu terkenal penyanyi legendaris Frank Sinatra, ”fly me to the moon//let me play among the stars”, seolah mewakili tingginya rasa penasaran banyak orang tersebut.
Dan, Kamis (22/2) lalu, 50 tahun berselang setelah pendaratan Apollo 17 pada 1972, pesawat ruang angkasa Amerika Serikat (AS) kembali mendarat di bulan. Tapi, kali ini tanpa awak.
Pesawat tersebut milik Odysseus yang dikembangkan Intuitive Machines yang bermarkas di Houston. Dikutip dari Agence France-Presse (AFP), pendaratan Odysseus tersebut merupakan bagian dari misi Layanan Muatan Bulan Komersial NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat). Misi tersebut memberi kesempatan perusahaan swasta seperti Intuitive Machines bekerja sama dengan NASA mengirimkan material ke bulan.
Odysseus dikabarkan menghadapi beberapa kendala dalam perjalanannya ke bulan. Misalnya, sistem navigasi laser yang gagal sebelum mendarat. Namun, tim Intuitive Machines tetap berhasil menyelesaikan misi.
MELANJUTKAN EKSPLORASI: Situasi di kutub utara bulan saat Odysseus bersiap untuk mendarat.
”Hari ini (Kamis lalu) untuk kali pertama dalam lebih dari setengah abad, AS telah kembali ke bulan,” kata administrator NASA Bill Nelson dalam sebuah video.
NASA memuji pendaratan pesawat ruang angkasa itu sebagai capaian terbesar. Untuk kali pertama, perusahaan swasta bisa meluncurkan perjalanan ke bulan. NASA yakin tujuan mengirimkan pesawat ruang angkasa secara komersial bisa terwujud pada akhir dekade ini.
Setelah sampai bulan, Odysseus akan memiliki berbagai tujuan. Termasuk menyelidiki cuaca luar angkasa dan mempelajari lingkungan bulan. Hal itu dilakukan sebelum rencana NASA mengirim misi berawak melalui program Artemis pada akhir 2026.
Wilayah kutub selatan bulan menjadi fokus utama karena dianggap memiliki simpanan air es. Air itu bisa digunakan sebagai minuman bagi astronot atau bahkan sebagai bahan bakar roket untuk perjalanan selanjutnya ke Mars yang dilakukan Artemis.
”Misi saat ini adalah salah satu misi pertama ke kutub selatan untuk benar-benar melihat kondisi lingkungan di tempat kita akan mengirim astronot kita di masa depan,” ujar pejabat senior NASA Joel Kearns.
Tahun-tahun ke depan diperkirakan kian ramai kompetisi untuk ”terbang ke bulan dan bermain di antara bintang”. Misi berawak pertama NASA dijadwalkan paling cepat diluncurkan pada 2026. Saingan geopolitik AS, Tiongkok, juga berencana mengirim awak pertamanya ke bulan pada 2030.
Dilihat dari bentuknya, Odysseus berbentuk heksagon. Ukurannya seperti mobil golf besar. Dia diluncurkan dengan roket SpaceX Falcon 9 dengan sistem pendorong dari metana cair dan oksigen cair baru yang bisa menempuh perjalanan seperempat juta mil dalam waktu singkat. (dee/c19/ttg)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
