Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Agustus 2022 | 18.02 WIB

Ketua DPR AS Terbang Hindari Tentara Tiongkok

Nancy Pelosi (AFP) - Image

Nancy Pelosi (AFP)

Tiba di Taiwan Disambut Demo Massa Pro-Beijing

JawaPos.com – Amerika Serikat (AS) tidak menghiraukan ancaman Tiongkok. Ketua Parlemen Negeri Paman Sam itu, Nancy Pelosi, tetap merealisasikan rencananya berkunjung ke Taiwan.

Kemarin pesawat militer yang membawa Peloshi tiba di Bandara Songshan, Taipei, pukul 22.44 waktu setempat.

Dia dan rombongannya disambut Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu.

Disambut hangat di bandara, tidak demikian di Grand Hyatt Hotel, Taipei, tempat dia menginap. Massa pro-Tiongkok meminta Pelosi hengkang. Beberapa media menyebut massa membawa spanduk dengan tulisan, "Pulanglah penghasut perang."

Itu merupakan kali pertama kunjungan politikus AS yang menduduki jabatan tinggi selama 25 tahun terakhir ke Taiwan. Kunjungan tersebut seakan menegaskan bahwa Pelosi serius dengan kritik-kritiknya yang dilontarkan terhadap Beijing selama ini.

Politikus 82 tahun itu adalah salah seorang tokoh AS yang frontal melancarkan kritik dan kecaman kepada Negeri Panda. Kunjungan Pelosi pun menjadi sinyal yang menggembirakan bagi kubu pro-kemerdekaan di Taiwan.

Situs web Flightradar24 mengungkapkan bahwa pesawat SPAR19 yang ditumpangi Pelosi dan rombongannya mengambil rute yang lebih panjang. Dari Kuala Lumpur, Malaysia, mereka terbang ke arah tenggara menuju Kalimantan sebelum berputar ke utara menuju Taiwan.

Tampaknya, itu dilakukan untuk menghindari terbang di atas Laut China Selatan, tempat tentara Tiongkok tengah melakukan latihan perang, termasuk di antaranya berlatih menembak langsung. Normalnya, penerbangan langsung Kuala Lumpur–Taipei memakan waktu lima jam. Jalan memutar membuat perjalanan menjadi sekitar tujuh jam.

Hanya beberapa jam sebelum kunjungan tersebut, Beijing sudah menebar ancaman dan propaganda. Mereka menegaskan bahwa AS akan membayar mahal atas kunjungan tersebut. Pesawat dan kapal tempur Tiongkok juga melintas sangat dekat dengan median Selat Taiwan.

Itu adalah selat yang memisahkan antara Taiwan dan Tiongkok. Beberapa kali pesawat dan kapal tersebut sempat menyentuh area median yang seharusnya menjadi batas dua wilayah. Itu dianggap sebagai tindakan provokatif Tiongkok pada Taiwan. Tak sampai di situ, Kantor Kepresidenan Taiwan mengklaim bahwa mereka diserbu oleh rentetan serangan siber.

Tiongkok selama ini memang tidak pernah menganggap Taiwan sebagai negara merdeka. Versi Tiongkok, Taiwan adalah salah satu wilayah otonomi khusus dengan pemerintahan sendiri serupa dengan Hongkong. Istilahnya, satu negara dua sistem. Beijing ingin agar Taipei kembali ke pangkuan mereka apa pun risikonya, termasuk jika harus menggunakan kekuatan militer. Kemerdekaan Taiwan jelas tidak pernah menjadi opsi bagi Tiongkok.

"AS dipastikan harus memikul tanggung jawab dan membayar harga karena merugikan kedaulatan dan kepentingan keamanan Tiongkok," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying seperti dikutip Agence France-Presse.

Menurut dia, jika AS sampai salah menilai maupun menangani situasi di Selat Taiwan, konsekuensinya adalah bencana keamanan, kemakmuran, serta ketertiban di kawasan Taiwan dan dunia. AS di lain pihak menanggapi ancaman dari Tiongkok dengan mengirimkan empat kapal perang ke perairan di timur Taiwan.

Salah satunya adalah kapal induk USS Ronald Reagan. Tiga lainnya adalah USS Antietam, kapal serbu amfibi USS Tripoli, dan sebuah kapal perusak USS Higgins. "Meskipun mereka mampu menanggapi segala kemungkinan, ini adalah pengerahan pasukan yang rutin dan normal," kilah salah seorang pejabat AS.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore