Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Januari 2024 | 13.31 WIB

Fotografer yang Menjadi Saksi Hidup Perjuangan Nelson Mandela Tutup Usia

Foto Magubane: Mendiang Peter Magubane di kediamannya di Johannesburg, Afrika Selatan pada 2016. Ia meninggal pada umur 91 tahun. (Sumber: REUTERS/Siphiwe Sibeko) - Image

Foto Magubane: Mendiang Peter Magubane di kediamannya di Johannesburg, Afrika Selatan pada 2016. Ia meninggal pada umur 91 tahun. (Sumber: REUTERS/Siphiwe Sibeko)

JawaPos.com - Peter Magubane, seniman dan fotografer terkenal yang menjadi saksi hidup dan menyoroti perjuangan sehari-hari warga Afrika Selatan, selama beberapa dekade di bawah apartheid disebutkan tutup usia. 

Peter Magubane disebutkan meninggal dunia pada Senin (1/1) di usia ke 91 tahun.

Mengenang perjuangan Peter Magubane, ia bergabung dengan majalah Drum pada 1955.

Sejak sat itu, Magubane menjadi terkenal sebagai salah satu dari sedikit fotografer yang meliput era represif.

Salah satu gambar bersejarahnya, yang diambil setahun kemudian di pinggiran kota Johannesburg,menampilkan gambar seorang gadis kulit putih duduk di bangku dengan papan bertuliskan 'Khusus Orang Eropa', sementara seorang pekerja kulit hitam duduk di belakangnya sambil menyisir rambutnya.

Pada tahun 1960-an, di tengah meningkatnya aktivisme anti-apartheid, ia meliput penangkapan Nelson Mandela dan pelarangan partai Kongres Nasional Afrika (ANC) yang kini berkuasa.

Satu dekade kemudian, ia memenangkan penghargaan Internasional atas liputannya tentang pemberontakan mahasiswa Soweto.
 
Baca Juga: Kronologi Tabrakan Pesawat Japan Airlines dengan Pesawat Penjaga Pantai di Bandara Haneda Tokyo

Tak selalu mulus, perjalana Peter Magubane pun sering mengalami hal tak menyenangkan seperti, dilecehkan, diserang, ditangkap dan, mulai 1969, dikurung selama 586 hari di sel isolasi.

Namun, Magubane tetap mengambil foto dan pada 1990-an, hingga ditunjuk sebagai fotografer resmi Nelson Mandela yang ketika itu baru saja dibebaskan.
 
"Dia adalah seseorang yang berkorban sangat besar demi kebebasan yang kita nikmati saat ini", kata cucunya, Ulungile Magubane, dikutip dari Reuters.

"Untungnya dia masih hidup dan melihat negara ini berubah menjadi lebih baik," katanya.

Lahir pada 1932 di pinggiran Vrededorp, Johannesburg, yang sekarang dikenal dengan Pageview, Magubane dibesarkan di Sophiatown, yang pernah menjadi pusat seniman kulit hitam terkenal yang akhirnya dihancurkan di bawah apartheid.

Dia meninggal dengan tenang sekitar tengah hari, kata putrinya Fikile Magubane. Dia akan berusia 92 tahun pada 18 Januari mendatang. 
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore