Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Desember 2023 | 23.40 WIB

Mengingat Kembali Tindakan Tate Reeves si 'Gubernur Terbodoh Mississippi' di tengah Kembali Meningkatnya Kasus Covid-19 Pascapandemi

ILUSTRASI: Virus Corona penyebab Covid-19. (PEXELS) - Image

ILUSTRASI: Virus Corona penyebab Covid-19. (PEXELS)

JawaPos.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah resmi mencabut status pandemi Covid-19 pada Mei 2023 lalu seiring vaksinasi yang sudah menyeluruh di berbagai penjuru. Indonesia sendiri tak lama kemudian mengambil langkah yang sama pada Juni 2023.

Namun, setengah tahun setelah status pandemi diangkat, kasus Covid-19 kembali menunjukkan peningkatan seiring terus berkembanganya varian baru.

Untuk diketahui, kasus Covid-19 dilaporkan kembali meningkat di sejumlah negara di ASEAN, termasuk Indonesia dengan rata-rata kasus harian bertambah 35-40 kasus. Sementara, pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit tercatat antara 60-131 orang per 6 Desember, dengan tingkat keterisian rumah sakit saat ini sebesar 0.06% dan angka kematian 0-3 kasus per hari.
 
 
Kenaikan kasus ini didominasi oleh subvarian Omicron XBB 1.5 yang juga menjadi penyebab gelombang infeksi Covid-19 di Eropa dan Amerika Serikat. Selain varian XBB, Indonesia juga sudah mendeteksi adanya subvarian EG2 dan EG5.
 
Meningkat kembalinya kasus Covid-19 membuat publik kembali mengenang masa-masa dunia dicengkeram oleh pandemi, termasuk sejumlah keputusan pemerintah yang dinilai gegabah dalam penanganannya.

Salah satunya adala Gubernur Mississipi Tate Reeves. Serentetan kejadian di masa kepemimpinannya yang menuai kritik tajam lantaran kelalaiannya dalam penanganan kasus Covid-19 membuatnya sempat dicap sebagai 'gubernur terbodoh Mississippi'.

Dilansir dari The Bulwark, pada awal Maret 2020 ketika pandemi virus Corona memanas di seluruh dunia, Reeves menjadi perbincangan karena membawa keluarganya dalam perjalanan ke Paris dan Barcelona. Tindakan ini terjadi tepat sebelum larangan perjalanan Eropa yang diberlakukan oleh Presiden AS saat itu, Donald Trump.

Namun, dua hari setelah perjalanannya itu, Reeves mengumumkan status keadaan darurat di Mississippi. Seiring dengan itu, sekitar 10 hari kemudian, dia mengeluarkan perintah eksekutif yang mendesak warga untuk menghindari kontak sosial, membatasi pertemuan, dan memberlakukan pembatasan pada sektor bar, restoran, serta layanan kesehatan.

Namun, paradoks muncul dalam perintah yang diberikan. Meskipun dimaksudkan untuk memberlakukan pembatasan, peraturan ini justru menciptakan kekacauan dengan menyatakan bahwa aturan yang lebih ketat dari peraturan negara bagian tersebut akan ditangguhkan selama masa krisis. Ini menciptakan kebingungan di kalangan warga dan pemerintah lokal, karena kejelasan dalam pedoman pelaksanaan kebijakan yang berlaku menjadi kabur.

Reeves sendiri mencoba untuk menjelaskan situasi tersebut dengan merujuk pada lockdown individual sebagai alternatif dari lockdown di seluruh negara bagian. Namun, pernyataannya tidak didukung oleh para ahli sehingga menimbulkan pertanyaan tentang kebijaksanaan dan keseriusan dalam menangani pandemi.

Menurut Walikota Tupelo, Jason Shelton, tindakan Reeves telah menciptakan kebingungan dan kepanikan di seluruh negara bagian. Para pemimpin lokal terpaksa menjelaskan kepada warga tentang kebijakan yang sebenarnya berlaku, mengonfirmasi bahwa jam malam, larangan restoran, dan perintah tinggal di rumah tetap berlaku meskipun pernyataan Reeves yang membingungkan.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kompetensi dan kepemimpinan gubernur dalam menghadapi krisis yang melibatkan kesehatan masyarakat. Kritik terhadap keputusan-keputusan gubernur terbodoh Reeves ini semakin memperumit situasi di Mississippi selama pandemi, dengan kejelasan yang hilang dan kepercayaan publik yang terguncang.

Berkaca dari kejadian tersebut dan relevansinya dengan meningkatnya kasus Covid-19 saat ini, bisa dikatakan bahwa tugas seorang pemimpin wilayah selama masa krisis bukanlah hal yang sederhana. Namun, penting untuk mengevaluasi tindakan mereka secara obyektif agar tidak melakukan kebodohan.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore