Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 April 2020 | 16.54 WIB

Dokter 65 Tahun Menangis Sembuh dari Covid-19, Berjuang 8 Hari di ICU

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Tenaga medis di Italia juga menjadi korban dari ganasnya virus Korona jenis baru atau Covid-19. Salah satunya dialami seorang dokter spesialis jantung, Fabio Biferali. Namun, dokter berusia 65 tahun itu berhasil menang melawan virus Korona setelah dirawat di ICU selama 8 hari.

Fabio Biferali, seorang ahli jantung berusia 65 tahun dari Roma menghabiskan delapan hari menjalani isolasi. Dia dirawat intensif di Policlinico Umberto I Roma. Tentu dia merasakan situasi mengerikan dan ketakutan akan kematian. Dia selalu menangis setiap kali menceritakan kondisinya.

"Saya merasakan sakit yang aneh. Menjadi dokter, saya bilang itu pneumonia. Saya tidak bisa membicarakan pengalaman ini tanpa menangis," kenangnya seperti dilansir dari The Local, Rabu (8/4).

Air mata selalu mengalir setiap kali dia mengingat perjuangannya. Menurutnya, setiap pasien pasti akan menangis.

"Menjadi seorang dokter membantu saya mengatasi rasa sakit. Perawatan untuk terapi oksigen itu menyakitkan, mencari arteri radial itu sulit. Pasien yang putus asa pasti menangis, 'cukup, cukup'," katanya.

"Yang terburuk adalah malam hari. Saya tidak bisa tidur, kecemasan membanjiri ruangan. Pada siang hari, para dokter, staf datang, orang-orang membagikan makanan," tuturnya.

Pada malam hari, mimpi buruk datang, kematian mengintai. Dia pun sulit tidur dengan memperhatikan stopwatch di ponselnya.

"Karena saya tidak tidur, saya menghitung napas pasien lain di tempat tidurnya dengan stopwatch telepon saya. Saya memperhatikannya. Dengan begitu, saya lupa tentang diri saya sendiri," tambahnya.

Dia ingat bahwa staf medis benar-benar mengenakan perlengkapan tertutup, kaki, tangan, kepala mereka. "Saya hanya bisa melihat mata mereka, mata penuh kasih sayang di balik topeng kaca mereka. Saya hanya bisa mendengar suara mereka. Banyak yang muda, dokter garis depan. Itu adalah momen harapan," tegasnya.

Ditanya apa yang dia lewatkan pada hari-hari itu, Biferali berkata kepada kerabatnya. Dia hanya takut tak bisa bertemu orang-orang yang dicintai.

"Saya takut tidak akan pernah melihat mereka lagi, mati tanpa bisa memegang tangan mereka. Saya membiarkan keputusasaan membanjiri diri saya," ujarnya.

Ini menjadi pengalaman hidup yang menakutkan. Dia berjanji akan lebih mengutamakan dedikasinya sebagai dokter untuk berjuang demi kesehatan masyarakat.

"Mulai sekarang saya akan berjuang untuk kesehatan masyarakat. Kita harus mempertahankan salah satu sistem kesehatan terbaik dunia," jelasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=HAM43oyXXLQ

 

https://www.youtube.com/watch?v=1UTTsFWIu9w

 

https://www.youtube.com/watch?v=h6_FJ4PKXKE

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore