
Photo
JawaPos.com - Tenaga medis di Italia juga menjadi korban dari ganasnya virus Korona jenis baru atau Covid-19. Salah satunya dialami seorang dokter spesialis jantung, Fabio Biferali. Namun, dokter berusia 65 tahun itu berhasil menang melawan virus Korona setelah dirawat di ICU selama 8 hari.
Fabio Biferali, seorang ahli jantung berusia 65 tahun dari Roma menghabiskan delapan hari menjalani isolasi. Dia dirawat intensif di Policlinico Umberto I Roma. Tentu dia merasakan situasi mengerikan dan ketakutan akan kematian. Dia selalu menangis setiap kali menceritakan kondisinya.
"Saya merasakan sakit yang aneh. Menjadi dokter, saya bilang itu pneumonia. Saya tidak bisa membicarakan pengalaman ini tanpa menangis," kenangnya seperti dilansir dari The Local, Rabu (8/4).
Air mata selalu mengalir setiap kali dia mengingat perjuangannya. Menurutnya, setiap pasien pasti akan menangis.
"Menjadi seorang dokter membantu saya mengatasi rasa sakit. Perawatan untuk terapi oksigen itu menyakitkan, mencari arteri radial itu sulit. Pasien yang putus asa pasti menangis, 'cukup, cukup'," katanya.
"Yang terburuk adalah malam hari. Saya tidak bisa tidur, kecemasan membanjiri ruangan. Pada siang hari, para dokter, staf datang, orang-orang membagikan makanan," tuturnya.
Pada malam hari, mimpi buruk datang, kematian mengintai. Dia pun sulit tidur dengan memperhatikan stopwatch di ponselnya.
"Karena saya tidak tidur, saya menghitung napas pasien lain di tempat tidurnya dengan stopwatch telepon saya. Saya memperhatikannya. Dengan begitu, saya lupa tentang diri saya sendiri," tambahnya.
Dia ingat bahwa staf medis benar-benar mengenakan perlengkapan tertutup, kaki, tangan, kepala mereka. "Saya hanya bisa melihat mata mereka, mata penuh kasih sayang di balik topeng kaca mereka. Saya hanya bisa mendengar suara mereka. Banyak yang muda, dokter garis depan. Itu adalah momen harapan," tegasnya.
Ditanya apa yang dia lewatkan pada hari-hari itu, Biferali berkata kepada kerabatnya. Dia hanya takut tak bisa bertemu orang-orang yang dicintai.
"Saya takut tidak akan pernah melihat mereka lagi, mati tanpa bisa memegang tangan mereka. Saya membiarkan keputusasaan membanjiri diri saya," ujarnya.
Ini menjadi pengalaman hidup yang menakutkan. Dia berjanji akan lebih mengutamakan dedikasinya sebagai dokter untuk berjuang demi kesehatan masyarakat.
"Mulai sekarang saya akan berjuang untuk kesehatan masyarakat. Kita harus mempertahankan salah satu sistem kesehatan terbaik dunia," jelasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=HAM43oyXXLQ
https://www.youtube.com/watch?v=1UTTsFWIu9w
https://www.youtube.com/watch?v=h6_FJ4PKXKE

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
