
Para ahli menemukan kuburan masal ratusan anak korban pembantaian di Peru abad ke-15. Mungkin anak-anak itu merupakan persembahan dan pengorbanan terhadap para dewa mereka akibat adanya badai El Nino yang sangat besar
JawaPos.com – Para ahli menemukan kuburan masal ratusan anak korban pembantaian di Peru abad ke-15. Mungkin anak-anak itu merupakan persembahan dan pengorbanan terhadap para dewa mereka akibat adanya badai El Nino yang sangat besar. Dilansir dari Daily Mail pada Kamis (7/3), lebih dari 140 anak laki-laki dan perempuan berusia 5-14 tahun dibantai dalam pengorbanan masal untuk menenangkan para dewa saat itu.
Banyak anak-anak dan hewan muda dipotong hati mereka selama ritual mengerikan tersebut. Diperkirakan badai El Nino besar menyebabkan banjir besar dan badai yang memicu pengorbanan berdarah.
Berdasarkan analisis dari sisa-sisa lebih dari 200 jasad anak-anak itu diperkirakan terjadi sekitar 1450, selama puncak peradaban Chimu di pesisir utara Peru. Situs pemakaman Huanchaquito Las Llamas adalah area seluas 7.500 kaki persegi yang terletak kurang dari setengah mil dari Ibu Kota Chimu, Chan Chan, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO.
Kerajaan kuno tersebut mengontrol wilayah sepanjang 600 mil di sepanjang pantai Pasifik dan lembah-lembah dari perbatasan modern Peru-Ekuador sebelum kekaisaran Inca mengambil alih. Temuan studi datang setelah enam tahun pekerjaan penggalian di lokasi dari 2011 hingga 2016.
Penulis studi John Verano, profesor antropologi di Universitas Tulane mengatakan, situs ini membuka bab baru tentang praktik pengorbanan anak-anak di dunia kuno. Penemuan arkeologis ini merupakan kejutan bagi kita semua, kita belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya, dan tidak ada saran dari sumber etnohistoris atau catatan sejarah tentang pengorbanan anak atau ilama yang dilakukan dalam skala seperti itu di pesisir utara Peru.
"Kami beruntung dapat sepenuhnya menggali situs dan memiliki tim lapangan dan laboratorium multidisiplin untuk melakukan penggalian dan analisis awal bahan," ujarnya.
Tes anatomi dan genetik, yang diterbitkan dalam jurnal PLOS One, mengatakan luka pada anak-anak menunjukkan dada mereka dirobek untuk mengambil hati mereka.
Pengorbanan manusia dan hewan dikenal dari berbagai budaya kuno dan sering dilakukan sebagai bagian dari ritual penguburan, arsitektur, atau spiritual. Ada sangat sedikit bukti, sebelum penemuan ini, tentang praktik brutal di wilayah Amerika Selatan ini.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
