
Sebelum Washington mengumumkan sayembara Hamza, Saudi tidak pernah angkat suara tentang menantu mendiang Mohammed Atta tersebut
JawaPos.com – Nama Hamza Bin Laden kembali menghiasi media global. Pemerintah Arab Saudi mencabut kewarganegaraan anak lelaki mendiang Osama bin Laden itu pada Jumat lalu. Sehari sebelumnya, Washington menyayembarakan Hamza. Amerika Serikat (AS) menjanjikan imbalan USD 1 juta (sekitar Rp 14 miliar) bagi siapa pun yang mempunyai informasi soal Hamza.
AS menyebut Hamza sebagai pemimpin baru Al Qaeda. ’’Sejak Agustus 2015, dia mengunggah pesan suara dan video di internet yang berisi ajakan menyerang AS dan sekutunya.’’ Demikian bunyi pengumuman resmi AS sebagaimana dilansir The Hill. Dalam seruannya, konon, Hamza menyebut aksi teror itu sebagai pembalasan dendam atas kematian sang ayah.
Sebelum Washington mengumumkan sayembara Hamza, Saudi tidak pernah angkat suara tentang menantu mendiang Mohammed Atta tersebut. Atta merupakan dalang serangan 11 September 2001 alias 9/11 di AS yang merenggut sekitar 3.000 nyawa. Tetapi, kepada media, Kementerian Dalam Negeri Saudi menyatakan bahwa keputusan untuk mencabut kewarganegaraan Hamza itu sudah diteken pada November lalu. Yakni, sebelum AS memasukkan Hamza dalam daftar teroris.
Akhir pekan lalu, Dewan Keamanan (DK) PBB juga memasukkan Hamza pada daftar individu-individu yang kena sanksi. Itu berarti PBB berhak membekukan aset-aset Hamza dan menerapkan larangan bepergian terhadapnya. Dengan demikian, Al Qaeda kembali masuk radar keamanan negara-negara adidaya.
Putra kesayangan Osama tersebut memang berpotensi tinggi menjadi khalifah baru bagi militan garis keras. Apalagi, Osama memang sudah mempersiapkannya untuk menjadi pemimpin, melanjutkan komando dirinya. Osama pernah menyatakan sangat terkesan pada Hamza karena memilih berjihad bersama sang ayah ketimbang belajar ke luar negeri.
’’Kalau Anda (AS) berpikir bisa bebas setelah melakukan kejahatan di Abbottabad. Anda salah,’’ ucap Hamza dalam pesan audio pertamanya seperti dikutip Associated Press. Di Abbottabad lah pasukan AS menyerbu Osama. Pentolan Al Qaeda itu tewas di lokasi kejadian.
Keputusan AS memasukkan Hamza pada daftar teroris dan langkah Saudi mencabut kewarganegaraan putra Osama tersebut menuai pujian dunia Barat. Kehadiran Hamza menjadi pengingat bagi mereka bahwa ancaman terorisme masih nyata. ’’Memang mereka cenderung diam dalam beberapa tahun ini. Tapi, itu adalah jeda, bukan menyerah,’’ ujar Koordinator Kontra Terorisme AS Nathan Sales kepada BBC.
Kekalahan ISIS tahun lalu justru menguntungkan Al Qaeda. ’’Banyak yang bilang bahwa pemimpin boneka Ayman Al Zawahiri membuat Al Qaeda stagnan. Kenyataannya, mereka hanya merunduk guna mengumpulkan tenaga,’’ jelas pakar kemanan Frank Gardner.
Sampai saat ini, keberadaan Hamza belum jelas. Beberapa pihak mengungkapkan bahwa dia berada di perbatasan Afghanistan-Pakistan. ’’Mungkin juga dia sekarang berada di Iran. Yang jelas, dia pasti berada di wilayah Asia Tengah-Selatan,’’ tutur Wakil Sekretaris Keamanan Diplomatik Kementerian Luar Negeri AS Michael Evanoff.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
