Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Februari 2017 | 14.00 WIB

Kematian Mendadak Diplomat Rusia di AS

TOKOH: Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin. - Image

TOKOH: Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin.


JawaPos.com – Sehari menjelang ulang tahun ke-65, Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin tutup usia. Pada Senin pagi (20/2), diplomat senior Negeri Beruang Merah itu tiba-tiba terjatuh di ruang kerjanya di kantor diplomatik Rusia Kota New York, Negara Bagian New York, Amerika Serikat (AS). Dia sempat dilarikan ke Presbyterian Hospital, tetapi tidak tertolong.


Sergei Ordzhonikidze, salah seorang diplomat Rusia di New York, menjelaskan bahwa Churkin meninggal akibat serangan jantung. Namun, dalam keterangan resmi Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Rusia, tidak disebutkan penyebab kematian tokoh kelahiran Kota Moskow tersebut. ’’Diplomat andal. Pribadi yang luar biasa. Sosok yang hebat. Kami sangat kehilangan,’’ tulis Maria Zakharova, juru bicara Kemenlu Rusia.



Presiden Rusia Vladimir Putin pun langsung menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Churkin begitu mendengar kabar meninggalnya salah seorang diplomat andalan tersebut. ’’Presiden merasa kehilangan,’’ terang Kremlin.



Sekjen PBB Antonio Guterres juga merasa kehilangan mitra yang berpengalaman. Sebagai penghormatan terakhir kepada Churkin, Sidang Umum PBB melakukan hening cipta pada Senin lalu.



Churkin, wakil Rusia di PBB sejak 2006, dikenal sebagai diplomat yang tangguh. Belakangan, dia rajin membela kebijakan Kremlin terkait dengan Ukraina dan Syria. Bahkan, dia pernah bersitegang dengan beberapa diplomat Barat yang mengkritisi sikap Kremlin di Ukraina dan Syria. Salah satunya adalah diplomat AS Samantha Power yang ketika itu menjabat duta besar AS di PBB.



Tentang keberpihakan Rusia terhadap rezim Presiden Bashar Al Assad di Syria, Churkin menegaskan bahwa Damaskus tidak salah. Yang dilakukan Assad hanyalah melindungi negerinya dari teroris. Karena itu, Kremlin mendukung segala upaya rezim Assad dalam membela diri. Itulah yang membuat bapak dua anak tersebut enam kali memveto rumusan sanksi Dewan Keamanan (DK) PBB untuk Syria.



Meski sering terlibat perdebatan sengit dalam forum PBB, meninggalnya Churkin membuat Power sedih. Lewat Twitter-nya, perempuan 46 tahun itu merasa sangat kehilangan. Bahkan, dia menyebut lawan debatnya tersebut sebagai maestro yang sangat penuh perhatian. ’’Dia melakukan segala hal yang bisa dilakukan untuk menjembatani perbedaan AS dengan Rusia,’’ ungkapnya.



Bukan hanya AS, negara-negara anggota PBB yang lain pun merasa kehilangan Churkin. Terutama mereka yang pernah bekerja sama dengan suami Irina tersebut. Di antaranya adalah Francois Delattre dari Prancis dan Matthew Rycroft asal Inggris. Dua diplomat itu menyebut Churkin sebagai panutan. Sebab, meski kaya pengalaman, Churkin tidak pernah menganggap remeh orang lain. (AFP/Reuters/CNN/hep/c14/any/tia)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore