Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 April 2017 | 02.18 WIB

Mereka Memilih Tinggalkan Kota dan Selama 18 Tahun Hidup di Alam Liar

BERTAHAN: Sesuai arah jarum jam, Davis dan Sky berpergian dengan menggunakan seluncur, David memeriksa perapian mereka, Romey mengambil sesuatu di luar kabin, dan Davis memotong pohon untuk kayu bakar. - Image

BERTAHAN: Sesuai arah jarum jam, Davis dan Sky berpergian dengan menggunakan seluncur, David memeriksa perapian mereka, Romey mengambil sesuatu di luar kabin, dan Davis memotong pohon untuk kayu bakar.


JawaPos.com – Jauh di kedalaman hutan di tepi Sungai Nowitna, Alaska, Amerika Serikat, tinggal Keluarga Atchley. Selama 18 tahun, hanya sedikit orang yang pernah mengunjungi mereka di lokasi terpencil, sekitar 161 kilometer dari kota terdekat, Ruby.



Fotografer Ed Gold, mengunjungi Keluarga Atchley yang selama 11 bulan dalam setahun tinggal terisolasi. Setahun sekali, mereka akan pergi ke kota terdekat untuk belanja besar. Daftar belanjaannya diperkirakan akan cukup selama setahun.



Gudang mereka berisi lebih dari seribu kaleng aneka makanan. Mulai susu sampai pasta tomat. Ada juga beras, gula, dan kacang polong. Namun, tidak semua makanan di beli. Keluarga dengan satu anak lelaki ini juga berburu. Mulai beruang, serigala, kelinci, bebek, dan berang-berang. Mereka juga bikin selai buah.



”Suatu ketika, saya pernah menembak beruang ketika David (suaminya, Red) pergi,” kata Romey, 44. ”Saya harus menguliti dan mengambil dagingnya. Itu butuh waktu seharian,” ceritanya.



Kehidupan sehari-hari keluarga ini pun berbeda dengan kebanyakan. Mereka menyesuaikan diri sesuai cahaya matahari. Mereka umumnya sarapan pukul 16.30, menghabiskan waktu siang saat musim dingin dengan melakukan pekerjaan pertukangan, bersih-bersih, dan membenarkan sesuatu. Setelah makan malam pada pukul 22.00 mereka bersantai dengan berbincang-bincang, main gitar, menulis, dan mulai tidup pukul 04.00.



Jika mereka kehabisan uang, David yang berusia 52 tahun akan menjual kulit binatang, membangun kabin pesanan, atau menjadi buruh di tambang emas lokal. Namun, uang tidak terlalu menjadi masalah. Mereka tidak membeli listrik karena punya solar panel dan berhasil hidup selama setahun dengan hanya USD 12 ribu (setara Rp 159 juta)



Anak lelaki Keluarga Atchley, Sky, 13 tahun, home schooling. Orang tuanya mengajarkan pelajaran on skill-based. Seperti matematika via memasak atau pertukangan. David dan Romey mengizinkan Ska untuk bermain video game Grand Theft Auto sebagai bagian pendidikan. ”Itu memberinya rasa percaya diri, rendah hati, dan tidak menganggap semuanya secara terlalu serius,” sambung David.



Sky pun menikmati pendidikan tidak bias aini. ”Saya tidak pernah pergi ke sekolah beneran. Saya pernah melihat sekali, tetapi mungkin tidak akan suka,” katanya.



Meski demikian, selain orang tua dan anjingnya, Charley, Sky juga punya teman. ”Saya punya teman di Fairbanks, sekitar 75 menit naik pesawat dari Ruby. Saya selalu berharap bisa bertemu dengannya setahun sekali,” sambungnya. ”Namanya Ella. Tetapi, karena kami jarang bertemu, dia benar-benar asing.”



Kota Ruby hanya bisa dicapai oleh Keluarga Atchleys via sungai. Saat musim panas naik boat dan jika musim dingin naik snowmobile di atas Sungai Nowitna yang beku. Namun perjalanan itu sangat berbahaya. Terutama di musim dingin. ”Pada 1999 adalah perjalanan paling mengerikan saya. Saya bisa mendengar suara es beku yang retak dan saya memang bawaan saya lebih berat dari biasanya,” kata Davis.



Jika ada kejadian darurat, butuh enam jam untuk mencapai RS terdekat setelah alarm dibunyikan dari telepon satelit keluarga. Jika es mencari, penjaga hutan akan membantu mengirimkan helikopter.



Dikisahkan Romey, kali pertama memulai tinggal di alam liar, berbagai kecemasan menghantuinya. ”Bagaimana kalau terjadi ini, bagaimana kalau ada yang sakit, bagaimana kalau ada bencana? Namun, ternyata semua baik-baik saja.”



Ditambahkan David, orang ingin tahu bagaimana rasanya tinggal terisolasi. ”Semua ini mengubah Anda. Anda akan lebih banyak berinteraksi dengan orang. Kami bisa berbicara mengenai satu subjek selama berbulan-bulan karena kami punya waktu,” ulasnya. (BBC/tia)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore