Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 April 2017 | 01.48 WIB

Setelah Menyerang Syria, Langkah AS Selanjutnya?

BEREMPATI: Polisi mengawasi demonstran di Los Angeles, AS yang memprotes serangan 59 misil Tomahawk terhadap Syria. - Image

BEREMPATI: Polisi mengawasi demonstran di Los Angeles, AS yang memprotes serangan 59 misil Tomahawk terhadap Syria.

JawaPos.com - Presiden AS Donald Trump panen dukungan dari kongres atas serangan rudal ke pangkalan udara militer Shayrat di Provinsi Homs, Syria, Jumat (7/4). Sebagian besar anggota Partai Republik maupun Demokrat satu suara.


Mereka menganggap penyerangan itu sebagai langkah yang tepat dan dieksekusi dengan baik. ”Saya berharap serangan itu meyakinkan rezim Assad bahwa tindakan mereka tidak boleh diulangi,” ujar senator Mark Warner dari Partai Demokrat. Dia merupakan wakil pemimpin Komite Intelijen Senat.


Tapi, setelah serangan usai, kongres mulai mempertanyakan langkah selanjutnya yang bakal diambil Presiden AS Donald Trump. Suami Melania itu cenderung tutup mulut dan tidak mencuit seperti biasanya setelah serangan tersebut.


Padahal, kongres ingin pemerintah memaparkan strategi untuk mengatasi masalah di Syria pada masa yang akan datang. Termasuk, rencana Trump untuk membuat zona aman di dalam Syria agar korban perang tidak perlu menjadi pengungsi di negara-negara lain.


”Kita membutuhkan strategi untuk mengetahui tujuan kita di Syria. Apakah tujuan kita hanya mengalahkan ISIS; mengubah rezim yang sudah ada; dan jika ada kebijakan untuk mengubah rezim, lantas setelah itu apa?” tanya senator John Cornyn dari Partai Republik.


Meski setuju, para senator mengkritik cara yang Trump gunakan untuk menyerang Syria. Sebab, pria yang baru memimpin AS seumur jagung itu tidak meminta persetujuan kongres terlebih dulu. Trump mendapatkan informasi serangan senjata kimia di Syria, lalu langsung menggelar rapat dengan penasihat keamanan nasionalnya selama dua hari.


Kamis siang (6/4), saat terbang menuju Florida untuk menjamu Presiden Tiongkok Xi Jinping, dia menggelar pertemuan lagi via video conference.  Sorenya dia kembali mengelar rapat dengan Menteri Dalam Negeri Rex Tillerson dan penasihat keamanan nasional Jenderal H.R. McMaster di Palm Beach, Florida. Trump akhirnya memberikan lampu hijau untuk menyerang Syria dengan rudal penjelajah.


Saat makan malam dengan Xi, Trump memberitahukan bahwa rudal pertama sudah mengenai target. Saat itulah Gedung Putih baru menelepon anggota kongres satu per satu dan memberitahukan serangan tersebut. Ada 59 rudal yang diluncurkan dua kapal tempur milik AS, USS Ross dan Porter, dari Laut Mediterania bagian timur.


Anggota kongres bersikukuh agar Trump mendapatkan izin terlebih dulu sebelum melakukan serangan militer. Rudal Tomahawk diluncurkan ke Shayrat tanpa pemberitahuan kepada kongres terlebih dulu.


”Kongres harus menghidupkan tanggung jawab konstitusionalnya untuk mendebat otorisasi penggunaan kekuatan militer terhadap negara yang berdaulat,” tulis pemimpin partai minoritas Nancy Pelosi kepada Ketua House of Representatives (DPR) Paul Ryan. Dia meminta anggota DPR kembali ke Washington. Mereka saat ini berada dalam masa reses dan baru aktif lagi akhir April mendatang.


Hal senada diungkapkan senator Republik Rand Paul. Anggota komite hubungan luar negeri di kongres itu menyebutkan bahwa serangan ke Syria tersebut ilegal. Sebab, berdasar konstitusi AS, deklarasi perang membutuhkan persetujuan dari kongres.  ”Kami tidak memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan apakah harus melakukan serangan itu atau tidak,” ujar Paul.


Hal senada diungkapkan senator Tim Kaine dari Demokrat. Menurut dia, Trump telah melanggar hukum yang berlaku di AS karena tidak mendapatkan persetujuan kongres terlebih dulu sebelum melakukan aksi itu. ”Jelas sekali (eksekutif, Red) tidak cukup berkonsultasi (dengan kongres, Red) dan konstitusi sudah menjelaskan hal itu. Kamu tidak bisa pergi perang tanpa voting di kongres,” tegasnya.


Senator Chris Murphy menambahkan bahwa ini adalah waktu yang tepat bagi kongres untuk meluruskan situasi. Jika tidak, ke depan kongres akan kehilangan hak konstitusionalnya untuk mendeklarasikan perang. Yang dilakukan Trump bisa menjadi preseden buruk untuk para pemimpin mendatang. (Reuters/AlJazeera/sha/c11/any)

Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore