Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 Juni 2017 | 18.36 WIB

Mata Uang Qatar Anjok, Terendah Sejak Juni 2016

MENANTI: Penumpang yang penerbangannya dibatalkan menanti di Bandara Internasional Hamad di Doha, Qatar,  Selasa (6/6). - Image

MENANTI: Penumpang yang penerbangannya dibatalkan menanti di Bandara Internasional Hamad di Doha, Qatar, Selasa (6/6).


JawaPos.com – Dampak diblokirnya Qatar oleh enam negara langsung terasa bagi mata uang riyal Qatar. Sebab, sebagian besar bank di Arab Saudi, UEA, dan Bahrain mulai menghentikan sementara pengeluaran surat kredit serta kesepakatan dengan bank-bank di Qatar. Mereka menunggu instruksi dari bank sentral di negara masing-masing.



Sejauh ini baru bank sentral di Saudi yang memberikan saran agar tak bertransaksi dulu dengan bank-bank di Qatar. ”Kami tidak akan mengambil langkah apa pun tanpa petunjuk dari bank sentral,” ujar salah seorang petinggi bank di UEA yang diwawancarai kantor berita Reuters.



Kemarin nilai mata uang riyal Qatar anjlok menjadi 3,65 per dolar Amerika Serikat (USD). Nilai tersebut merupakan yang terendah sejak Juni 2016. Namun, pemerintah Qatar tidak terlalu khawatir.



”Kami mengamati secara ketat sektor finansial. Jika pasar membutuhkan likuiditas, bank sentral tentu saja akan menyediakannya,” ujar pihak bank sentral Qatar. Pemerintah Qatar masih memiliki kemampuan finansial yang kuat untuk melindungi bank-banknya. Ekspor gas Qatar bernilai miliaran dolar AS per bulan dan mereka memiliki aset yang diperkirakan senilai USD 335 miliar atau setara dengan Rp 4.451,6 triliun.



Krisis finansial di bank dan tekanan mata uang hanya sebagian kecil dari efek domino pemutusan hubungan diplomatik yang dilakukan enam negara itu. Mulai kemarin, seluruh Bahrain, Saudi, Mesir, dan UEA resmi menutup jalur darat, laut, serta udara masing-masing untuk seluruh transportasi dari Qatar. Maskapai Qatar Airways mengumumkan kepada para penumpang yang gagal terbang ke Bahrain, Saudi, Mesir, dan UEA pada tanggal 5–6 Juni agar menjadwal ulang penerbangan masing-masing. Mereka diberi waktu 30 hari, terhitung sejak tanggal keberangkatan di tiket masing-masing.



Sementara itu, Emir Kuwait Sheikh Sabah Al Ahmad Al Jaber Al Sabah kemarin bertolak ke Saudi. Dia akan menemui Raja Salman untuk membahas masalah Qatar.



Kuwait dan Oman adalah dua negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk yang memilih untuk tak memutuskan hubungan dengan Qatar. Emir Kuwait akan menawarkan diri untuk menjadi mediator. Sebelumnya, Sheikh Sabah telah berhasil memengaruhi Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani agar tidak membuat pernyataan secara nasional pada Senin (5/6). Langkah tersebut ditakutkan hanya akan membuat situasi kian panas.



Qatar juga sudah menyatakan diri siap berdialog dan mau dimediasi oleh Kuwait maupun Turki.



”Kami yakin semua masalah bisa diselesaikan melalui diskusi dan saling menghargai,” ujar Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani.



Tapi, tentu saja itu tidak akan mudah. Menteri Luar Negeri UEA Anwar Gargash menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengubah sikap, kecuali Qatar sudah memiliki rencana jelas untuk memperbaiki kebijakan luar negerinya. (wan/byu/mia/Reuters/AlJazeera/TheGuardian/sha/c11/ttg)


Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore