
Etnis Rohingya Mengungsi
JawaPos.com - Gelombang kekerasan terbaru terhadap etnis Rohingya dimulai pada 25 Agustus 2017. Gerilyawan Rohingya bersenjatakan pisau dan peledak menyerang lebih dari 30 pos polisi di Rakhine Utara.
Serangan gerilyawan Rohingya dibalas dengan pemusnahan etnis Rohingya oleh militer Myanmar. Akibatnya, ribuan orang yang kebanyakan adalah anak-anak dan wanita lari mengungsi ke wilayah Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari konflik Rakhine tersebut. Sejak kekerasan terjadi di Myanmar, Bangladesh sudah menjadi tempat penampungan ratusan ribu pengungsi Rohingya yang melarikan diri.
Penyerangan itu awal mulanya dilakukan oleh sebuah kelompok yang disebut Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Kelompok ini pertama kali muncul pada Oktober 2016, dengan tujuan utama melindungi minoritas Muslim Rohingya dari penindasan militer di Myanmar.
Namun Juru Bicara ARSA mengatakan kepada Asia Times, mereka tidak memiliki kaitan dengan kelompok jihad mana pun. Anggota-anggotanya hanyalah pemuda Rohingya yang marah akibat kekejaman dan kekerasan yang dilakukan oleh militer Myanmar sejak tahun 2012.
Pengungsi Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh menggambarkan, tentara Myanmar melakukan pembakaran desa-desa, pemukulan, penembakan, dan pembunuhan terhadap etnis Rohingya. Bahkan PBB menyebutnya sebagai kejahatan pemusnahan etnis Rohingya sebab tanggapan militer Myanmar terhadap serangan ARSA terlalu berlebihan dan menyasar warga sipil tak berdosa.
Pemerintah Myanmar menolak tuduhan itu. Mereka mengatakan, gerilyawan Rohingya dan warga desa Muslim yang membakar rumah mereka sendiri. Meskipun dunia tahu pelakunya militer Myanmar.
Seorang wartawan BBC melihat pedesaan Muslim dibakar oleh sekelompok pemuda Buddha Myanmar. Kelompok hak asasi manusia Amnesty International juga menuduh militer Myanmar menanam ranjau darat di perbatasan Myanmar dan Bangladesh untuk melukai orang Rohingya.
Rohingya selama ini dianggap oleh Pemerintah Myanmar sebagai imigran gelap dari Bangladesh. Pemerintah mengingkari hak kewarganegaraan mereka, walaupun banyak data menunjukkan bahwa mereka telah menetap di sana selama beberapa generasi.
Sejak gelombang kekerasan yang terjadi pada tahun 2012, mereka tinggal di salah satu negara bagian termiskin di Myanmar, akses mereka juga sangat dibatasi. Sampai saat ini ada 6.700 Rohingya tewas di Myanmar akibat kekerasan.
Sebanyak 647.000 Rohingya melarikan diri ke Myanmar sejak serangan bulan Agustus 2017. Pada bulan November, Bangladesh menandatangani kesepakatan dengan Myanmar untuk mengembalikan ratusan ribu pengungsi Rohingya.
Medecins Sans Frontieres (MSF), sebuah lembaga pemberi bantuan medis menilai, keputusan ini terlalu dini mengingat Rohingya masih melarikan diri dan laporan kekerasan terhadap mereka masih terjadi sampai saat ini.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
