Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 7 Januari 2024 | 17.40 WIB

Pertama dan Terpanjang di Indonesia! Intip Keunikan Terowongan Kembar (Twin Tunnel) yang Menjadi Ikon Isimewa Tol Cisumdawu

Potret Terowongan Kembar (Twin Tunnel) Tol Cisumdawu./binamarga.pu.go.id - Image

Potret Terowongan Kembar (Twin Tunnel) Tol Cisumdawu./binamarga.pu.go.id

JawaPos.com – Pemandangan terowongan kembar (Twin Tunnel) yang dipamerkan di jalan tol Cileunyi – Sumedang – Dawuan (Cisumdawu), mampu menarik perhatian para pengendara yang melintas karena keunikannya.

Tak banyak yang tahu, Twin Tunnel di tol Cisumdawu ini merupakan terowongan pertama yang berada di badan jalan tol dan merupakan yang terpanjang di Indonesia dengan panjang 472 meter.

Dalam pembangunannya, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga melalui Balai Geoteknik Terowongan dan Struktur (BGTS), mampu menyelesaikan pembangunan Twin Tunnel ini di tol sepanjang 61, 6 Kilometer.

Sementara itu, Kepala BGTS Fahmi Aldiamar mengatakan, pembangunan terowongan kembar dengan konsep yang unik seperti ini, tak lepas dari karakteristik topografi daerah tol yang memiliki pegunungan dan bukit.

Sehingga menurutnya, jika memaksakan dibangun jalan tol yang berdiri di atas bukit, maka sangat beresiko bagi pengguna jalan.

Akibatnya, jalan tol itu akan terjal, sempit dan tepinya akan berupa tepi jurang. Sehingga kurang nyaman dan aman.

Setelah melewati berbagai pertimbangan, pada akhirnya pihaknya memutuskan untuk membangun terowongan di jalan tol tersebut. Sehingga, jalan tidak perlu dibangun di atas perbukitan itu, akan tetapi di bawahnya.

Selain mempertimbangkan jalur perbukitan, pembangunan terowongan Twin Tunnel ini juga memperhitungkan dampaknya pada lingkungan. Jika memaksakan dibangun di atas bukit, maka pembangunan tol dapat memotong aliran air warga.

“Nah dengan terowongan ini kita bisa mengkondisikan daerah yang disekitarnya atau di daerah permukaannya tidak akan terganggu, mungkin hanya bagian inlet portal atau outlet akan ada konstruksinya, tapi bukit bagian atas tidak ada gangguan sama sekali,” tambah Fahmi.

Fahmi juga menjelaskan bahwa, inovasi teknologi yang digunakan untuk membangun terowongan ini adalah metode New Austrian Tunneling Method (NATM) atau metode penggalian secara bertahap.

“Metode ini adalah metode yang paling baik untuk kondisi material yang akan digali, jadi di Cisumdawu ini memang material yang akan kita gali adalah material vulkanik, dominan materialnya memang lebih mudah runtuh jika ada air, dan yang kedua memang akibat dari erupsi gunung berapi biasanya ada bongkahan-bongkahan batuan yang tercampur di material tanah tersebut, jadi untuk metode lainnya hanya bisa digunakan pada kondisi homogen,” terang Fahmi.

Menurutnya, pembangunan terowongan kembar ini tak lepas dari berbagai tantangan. Salah satunya, ketidakstabilan lereng yang harus diatasi dengan cara perkuatan tanah (forepoling).

Forepoling dilakukan dengan sistem pipa yang dimasukkan ke dalam tanah yang digali membentuk setengah lingkaran kemudian diisi dengan grouting atau material pengisi beton.

Tujuan dilakukannya forepoling adalah untuk membuat sekeliling terowongan menjadi kuat. Hal tersebut, menurutnya dilakukan secara berulang – ulang dengan panjang galian mencapai 60-80 cm.

Kemudian, terkait alasan terowongan Twin Tunnel dibangun dengan bentuk kembar, Fahmi menjelaskan bahwa terowongan ini membutuhkan enam lajur sehingga dibuat dua terowongan dengan dua arah yang berbeda.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore